ads

Iklan
LATEST UPDATES

Kamis, 30 April 2026

Dari Perguruan Silat hingga Ojol: Polres Nganjuk Kumpulkan Semua Elemen dalam Apel Sabuk Kamtibmas 2026


Lapangan apel Polres Nganjuk pada Kamis (30/4/2026) berubah menjadi simbol nyata persatuan lintas komunitas. Ribuan perwakilan dari berbagai elemen masyarakat hadir dalam Apel Besar Sabuk Kamtibmas Tahun 2026, mulai dari tokoh perguruan silat se-Kabupaten Nganjuk, SATGAS PALMERA, PAMTER, BANSER, SENKOM, hingga komunitas ojek online. Mereka tidak datang sendiri; mereka datang dengan satu tekad: menjaga keamanan dan ketertiban wilayah. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menegaskan bahwa apel ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi langkah konkret membangun jejaring keamanan yang solid hingga tingkat komunitas paling bawah.

Dalam apel yang digelar serentak di seluruh jajaran Polres se-Polda Jawa Timur ini, amanat Kapolda Jatim Irjen Pol Drs. Nanang Avianto dibacakan di hadapan seluruh peserta. Isinya tegas: Sabuk Kamtibmas bukan kegiatan seremonial, melainkan gerakan nyata memperkuat sistem keamanan berbasis kolaborasi antara Polri dan masyarakat. Kapolda juga mengingatkan bahwa Jawa Timur ke depan akan menghadapi tantangan berat: konflik sosial, hoaks dan propaganda digital, radikalisme, intoleransi, bencana alam, karhutla, hingga gangguan ketertiban yang bisa menghambat pembangunan. Karena itu, Sabuk Kamtibmas diminta menjadi pengikat persatuan sosial dan benteng bersama menjaga stabilitas daerah.

Kapolres Nganjuk menambahkan bahwa situasi kamtibmas yang aman tidak bisa diwujudkan hanya oleh Polri. Dibutuhkan kebersamaan, kepedulian, serta kecepatan deteksi dini dari seluruh elemen masyarakat. "Setiap potensi gangguan harus dapat dicegah sebelum berkembang," tegasnya. Ia juga menyoroti peran strategis tokoh perguruan silat, organisasi masyarakat, relawan komunikasi, hingga komunitas ojol. Mereka semua diharapkan menjadi agen pendingin di tengah masyarakat, mampu menangkal provokasi, meredam potensi gesekan, serta menjadi mitra strategis Polres Nganjuk dalam menjaga ruang publik tetap aman, damai, dan produktif.

Melalui apel besar ini, Polres Nganjuk menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektoral tanpa ego kelembagaan. Sinergitas yang dibangun tidak boleh berhenti pada kegiatan apel, tetapi harus berlanjut dalam komunikasi aktif, pertukaran informasi, dan langkah cepat saat muncul potensi kerawanan. Dengan rapatnya barisan Sabuk Kamtibmas di Kabupaten Nganjuk, Polres berharap stabilitas keamanan semakin kokoh sebagai modal utama pembangunan daerah, pertumbuhan ekonomi, dan kenyamanan masyarakat dalam beraktivitas. Semangat kebersamaan ini adalah pesan kuat bahwa kondusivitas wilayah hanya dapat terjaga apabila semua unsur bergerak dalam satu tujuan yang sama.(Avs)

186 Ribu Mitra Siap Jaga Jatim: Apel Sabuk Kamtibmas Buktikan Kolaborasi Polri dan Masyarakat Bukan Sekadar Slogan


Halaman Mapolda Jatim pada Kamis (30/4/2026) berubah menjadi lautan semangat kebersamaan. Sebanyak 1.980 perwakilan dari berbagai komunitas hadir langsung dalam apel besar Sabuk Kamtibmas yang dipimpin Waka Polda Jatim Brigjen Pol Pasma Royce. Namun angka itu hanyalah puncak gunung es, karena total mitra Sabuk Kamtibmas di Jawa Timur mencapai angka fantastis: 186.784 orang. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Jules Abraham Abast menjelaskan bahwa apel ini adalah wujud nyata kolaborasi antara Polri dan masyarakat dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan deklarasi perang bersama terhadap segala potensi gangguan kamtibmas.

Siapa saja yang tergabung dalam Sabuk Kamtibmas? Kombes Abast merinci bahwa elemennya sangat beragam, mulai dari organisasi pencak silat, Banser, Kokam, Pemuda Pancasila, hingga komunitas ojek online (ojol). Semua elemen ini, menurutnya, hadir dengan satu visi yang sama: menjaga stabilitas Jawa Timur. Program ini merupakan bagian dari "Jogo Jatim" yang diinisiasi Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, dengan filosofi bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab polisi, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat. Di era disrupsi dan dinamika geopolitik yang cepat, kekuatan 186 ribu mitra ini menjadi aset tak ternilai bagi kepolisian.

Peran Sabuk Kamtibmas tidak hanya bersifat statis seperti pengamanan markas kepolisian, tetapi juga dinamis seperti pengamanan aksi unjuk rasa. Mereka juga dilibatkan dalam menghadapi potensi konflik sosial, penyebaran hoaks, hingga mitigasi bencana seperti kebakaran hutan dan lahan. Polda Jatim menekankan lima poin penting dari apel ini: memperkuat pencegahan gangguan keamanan, menghilangkan ego sektoral, meningkatkan koordinasi lintas wilayah, memastikan peran aktif Kapolres dan pengawas wilayah, serta mitigasi krisis sosial. Dengan cakupan peran seluas itu, Sabuk Kamtibmas bukan sekadar mitra, tetapi perpanjangan tangan kepolisian di tingkat akar rumput.

Kombes Abast mengajak seluruh elemen untuk menjaga ruang demokrasi tetap sehat dan damai, bebas dari provokasi, disinformasi, maupun aksi anarkisme. Ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan adalah syarat utama bagi keberlangsungan pembangunan dan investasi di Jawa Timur. Tanpa stabilitas, program pemerintah tidak akan berjalan optimal dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Karena itu, Sabuk Kamtibmas tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi gerakan nyata yang berkelanjutan hingga tingkat desa dan kelurahan. Jika Polri dan seluruh komponen masyarakat bergerak bersama, maka setiap potensi ancaman dapat dikelola menjadi kekuatan persatuan untuk Jawa Timur yang tangguh.(Avs)

May Day 2026: Polda Jatim Tidak Hanya Siaga di Surabaya, Tapi Juga Kawal Buruh hingga Jakarta

Derap langkah pengamanan Hari Buruh Internasional 2026 di Jawa Timur dimulai lebih awal. Kamis (30/4/2026), Polda Jatim melalui Kabid Humas Kombes Pol Jules Abraham Abast menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan layanan pengamanan maksimal yang mencakup seluruh wilayah, dari Surabaya hingga ke daerah-daerah terpencil sekalipun. Yang menarik, komitmen ini tidak berhenti di perbatasan provinsi. Polda Jatim juga akan mengawal perwakilan buruh yang berangkat ke Jakarta untuk mengikuti perayaa
n May Day secara nasional. Ini adalah bentuk sinergi yang jarang terjadi, di mana kepolisian daerah tidak hanya fokus pada wilayahnya sendiri, tetapi juga peduli pada keselamatan buruh yang bepergian ke luar daerah.

Kabid Humas menjelaskan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan dengan para koordinator dan pimpinan elemen buruh di seluruh Jawa Timur. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada gesekan yang tidak perlu antara aparat dan massa aksi. Kombes Pol Jules Abraham Abast menekankan bahwa Polda Jatim berkomitmen menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat, baik di kota Surabaya maupun di kabupaten-kabupaten seperti Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, dan lainnya. Setiap titik kegiatan yang tersebar akan dipetakan dan mendapatkan pengamanan proporsional sesuai dengan skalanya.

Lebih jauh, Kombes Abast menyebut bahwa jumlah personel yang akan diterjunkan baru dapat dipastikan setelah pelaksanaan apel kesiapan pengamanan. Namun yang jelas, pendekatan yang digunakan adalah pelayanan, bukan sekadar penjagaan. "Jika di wilayah ada elemen buruh yang melakukan perayaan, akan tetap kami kawal dan fasilitasi. Kami berikan pelayanan semaksimal mungkin," tegasnya. Pernyataan ini sekaligus menjawab kekhawatiran publik bahwa aparat kerap bersikap represif terhadap aksi buruh. Tahun ini, Polda Jatim ingin menunjukkan pendekatan yang lebih humanis dan kolaboratif.

Dengan kesiapan yang matang ini, Polda Jatim berharap peringatan May Day 2026 dapat berlangsung aman, damai, dan menjadi momentum positif bagi para pekerja untuk menyampaikan aspirasi secara tertib. Tidak ada lagi cerita tentang bentrok atau pembubaran paksa. Sebaliknya, polisi dan buruh diharapkan bisa duduk bersama dalam bingkai negara hukum yang menjamin kebebasan berekspresi. Inilah energi baru pengamanan May Day di Jawa Timur yang patut diapresiasi.(Avs)

Cabai di Lahan Sela, Padi di Sawah: Bhabinkamtibmas Juwono Awaki Dua Strategi Sekaligus untuk Swasembada Pangan


Di tengah kesibukan petani Desa Juwono, Kecamatan Kertosono, Nganjuk, ada sosok yang tak pernah lelah hadir mendampingi. Kamis (30/4/2026), Aipda Mukhamad Jupri, Bhabinkamtibmas setempat, kembali turun ke lapangan untuk memantau dua komoditas sekaligus: cabai yang ditanam di lahan sela dan padi di area persawahan. Ini bukan sekadar inspeksi biasa, melainkan pendampingan agresif dari Polri untuk memastikan setiap jengkal tanah produktif demi mendukung program ketahanan pangan nasional dan swasembada pangan. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menegaskan bahwa sinergi antara Bhabinkamtibmas dan petani adalah kunci keberhasilan program pangan dari tingkat desa.

Strategi yang diusung Aipda Mukhamad Jupri cukup cerdas. Lahan sela yang biasanya hanya ditumbuhi rumput liar kini disulap menjadi kebun cabai yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga. Sementara itu, persawahan tetap menjadi andalan utama untuk memproduksi bahan pangan pokok. Dalam pendampingannya, Aipda Jupri tidak sekadar melihat dari kejauhan, tetapi berdialog intensif dengan petani tentang kondisi tanaman, sistem perawatan, ketersediaan air, hingga berbagai hambatan yang mereka hadapi selama masa tanam. Kapolres Nganjuk menyebut kehadiran polisi di tengah petani ini sebagai jaminan bahwa setiap potensi pertanian dapat dikelola secara maksimal.

Kapolsek Kertosono Kompol Joni Suprapto menambahkan bahwa arahan dari pimpinan sangat jelas: Bhabinkamtibmas tidak boleh hanya fokus pada keamanan, tetapi harus menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat. "Kami berharap anggota tidak hanya hadir menjaga keamanan, tetapi juga menjadi pendamping yang aktif di sektor produktif seperti pertanian," ujarnya. Program pendampingan Aipda Jupri ini menjadi contoh bahwa kepolisian bisa hadir dalam berbagai bentuk, tidak hanya saat terjadi gangguan kamtibmas, tetapi juga saat petani membutuhkan motivasi dan solusi atas masalah teknis di lapangan.

Melalui pemantauan rutin yang dilakukan Aipda Jupri, diharapkan produktivitas pertanian di Desa Juwono terus meningkat dari musim ke musim. Lahan sela yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini menghasilkan cabai yang bisa dijual, sementara persawahan semakin terawat dan menghasilkan padi berkualitas. Jika setiap desa di Nganjuk memiliki Bhabinkamtibmas yang seaktif Aipda Jupri, maka swasembada pangan nasional bukan lagi sekadar wacana, melainkan target yang realistis untuk dicapai dari tingkat paling bawah.(Avs)

Rabu, 29 April 2026

Dari Hutan ke Piring: Bhabinkamtibmas Ngadipiro Ubah Lahan Kehutanan Jadi Lumbung Jagung Rakyat


Siapa sangka, lahan kehutanan yang selama ini hanya ditumbuhi semak belukar kini berubah menjadi hamparan jagung yang menghijau di Desa Ngadipiro, Kecamatan Wilangan, Nganjuk. Kamis (30/4/2026), Bhabinkamtibmas setempat, Bripka Yuli. P, turun langsung memantau pemanfaatan lahan tersebut bersama warga binaannya. Ini bukan sekadar tanaman biasa, melainkan langkah nyata mendukung program ketahanan pangan nasional dengan mengoptimalkan lahan nonkonvensional yang sebelumnya tidak terpakai. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menyebut inovasi ini sebagai bentuk adaptasi cerdas masyarakat yang patut didukung penuh, karena mengubah kelemahan menjadi kekuatan produktif.

Di balik hamparan jagung yang mulai meninggi itu, ada cerita tentang kegigihan warga dan pendampingan dari Bhabinkamtibmas. Bripka Yuli tidak hanya melakukan pengecekan kondisi tanaman, tetapi juga duduk bersama petani membahas perawatan, kebutuhan pupuk, hingga kendala yang mereka hadapi selama masa tanam. Kapolres Nganjuk menegaskan bahwa Polri melalui Bhabinkamtibmas terus mendorong masyarakat agar mampu melihat potensi di sekitarnya, termasuk lahan kehutanan yang bisa dimanfaatkan secara bijak. Jagung dipilih karena mudah dibudidayakan, tahan terhadap kondisi lahan tertentu, dan memiliki nilai ekonomi tinggi baik sebagai pangan manusia maupun pakan ternak.

Kapolsek Wilangan AKP Muh. Fatoni menambahkan bahwa pihaknya terus menggerakkan seluruh jajaran Bhabinkamtibmas untuk aktif mendampingi masyarakat di setiap sektor produktif, tidak hanya di bidang keamanan. "Kami mendukung penuh langkah anggota di lapangan dalam memberikan motivasi dan pendampingan kepada warga agar pemanfaatan lahan yang ada bisa memberikan hasil nyata bagi ketahanan pangan keluarga," ujarnya. Program ini membuktikan bahwa peran polisi tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat.

Melalui pemantauan rutin seperti ini, diharapkan pemanfaatan lahan kehutanan secara produktif dapat terus berkembang di Desa Ngadipiro dan bahkan menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Nganjuk. Bukan tidak mungkin, ke depannya kawasan hutan yang selama ini kurang optimal akan berubah menjadi lumbung pangan baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional. Inilah wujud nyata bahwa kolaborasi antara Bhabinkamtibmas dan warga dapat menciptakan solusi inovatif di tengah keterbatasan lahan pertanian konvensional.(Avs)

Bukan Sekadar Gaya: Polantas Nganjuk Ajak Gen Z dan Komunitas Motor Jadikan Keselamatan sebagai Identitas Baru


Kamis (30/4/2026), suasana berbeda terlihat dalam program Polantas Menyapa yang digelar Satlantas Polres Nganjuk. Aiptu Didik langsung turun ke lapangan menyentuh dua kelompok yang selama ini identik dengan mobilitas tinggi dan gaya berkendara khas: remaja Gen Z serta komunitas motor. Ini bukan sekadar sosialisasi biasa, melainkan upaya preventif membangun budaya tertib lalu lintas dari akar generasi muda yang paling dinamis sekaligus paling rentan terhadap pelanggaran. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menegaskan bahwa generasi muda bukanlah musuh di jalan, melainkan mitra strategis untuk menciptakan keamanan dan kelancaran lalu lintas.

Dialog hangat antara Aiptu Didik dan para peserta menjadi metode utama dalam program ini. Tidak ada ceramah satu arah yang menggurui, melainkan diskusi interaktif seputar penggunaan helm standar, larangan knalpot brong, bahaya kebut-kebutan, kepatuhan terhadap marka dan rambu, serta pentingnya kelengkapan surat kendaraan. Kapolres Nganjuk menyebut bahwa jika Gen Z dan komunitas motor bisa tertib, maka budaya disiplin di jalan akan terbentuk lebih cepat. Pendekatan ini dipilih karena anak muda lebih mudah menerima pesan ketika mereka dilibatkan, bukan hanya diperintah.

Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Ivan Danara Oktavian menambahkan bahwa kehadiran polisi di tengah komunitas motor bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menjadi sahabat yang mengingatkan. Ia menekankan bahwa keselamatan harus menjadi identitas baru anak muda dan komunitas motor, bukan sekadar gaya atau gengsi di jalan. Program Polantas Menyapa dirancang untuk membangun kesadaran bahwa berkendara adalah soal tanggung jawab hukum dan nyawa, bukan hanya penampilan. Dengan cara ini, pesan kepatuhan diharapkan lebih membumi dan tidak mudah dilupakan.

Melalui langkah proaktif ini, Satlantas Polres Nganjuk berharap para remaja dan anggota komunitas motor yang telah tersentuh edukasi bisa menjadi pelopor keselamatan di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan tidak hanya tertib sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menumbuhkan kepatuhan hukum di antara teman sebaya dan masyarakat luas. Jika generasi muda sudah sadar, maka jalan raya Nganjuk akan lebih aman bagi semua pengguna. Inilah wujud Polri yang tidak hanya tegas, tetapi juga dekat dan peduli terhadap masa depan generasi bangsa.(Avs)

Masih Banyak Obvitnas Tanpa PKS: Baharkam Polri Dorong Regulasi Wajib Sistem Manajemen Pengamanan


Sebuah fakta mengkhawatirkan terungkap dalam rapat koordinasi evaluasi pengamanan Objek Vital Nasional (Obvitnas) yang digelar di Hotel Avanzel, Cibubur, Bekasi, Rabu (29/4/2026). Korps Sabhara Baharkam Polri bersama Kemenko Polkam menemukan bahwa masih banyak pengelola Obvitnas di Indonesia yang belum memiliki perjanjian kerja sama resmi dengan Polri, baik dalam bentuk MoU maupun PKS, terkait penerapan Sistem Manajemen Pengamanan (SMP). Pertemuan yang dipimpin Deputi Bidang Kamtibmas Kemenko Polkam, Irjen Pol S. Tarigan, dengan didampingi Brigjen TNI Muhamad Sujono ini dihadiri jajaran kementerian teknis seperti Perindustrian, Pariwisata, Perhubungan, PUPR, dan ESDM.

Kasubdit Pamwaster Ditpamobvit Korsabhara Baharkam Polri, KBP Waluya, memaparkan data komprehensif bahwa tanpa standar keamanan yang terukur, aset-aset vital nasional rentan terhadap berbagai ancaman, mulai dari sabotase, terorisme, hingga bencana non-alam. Rapat ini kemudian menyimpulkan perlunya revitalisasi regulasi yang mewajibkan setiap Obvitnas menerapkan SMP. Kementerian teknis didorong untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan pengendalian (wasdal) terhadap kepatuhan tersebut, sehingga tidak ada lagi objek vital yang beroperasi tanpa standar keamanan yang jelas.

Poin penting lain yang dihasilkan dari rapat ini adalah validasi ulang data jumlah Obvitnas di tiap sektor. Regulasi lama di sektor Perhubungan (tahun 2004) dan Pariwisata (tahun 2016) dinilai sudah tidak relevan dengan dinamika ancaman kekinian. Oleh karena itu, pemerintah akan segera merevisi aturan-aturan tersebut. Langkah ini diharapkan dapat menutup celah hukum yang selama ini dimanfaatkan oleh pengelola Obvitnas untuk menghindari kewajiban kerja sama keamanan dengan Polri. Dengan regulasi yang baru, tidak ada lagi alasan bagi Obvitnas untuk mengabaikan standar pengamanan.

Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), rapat koordinasi ini juga membahas kesiapan pengamanan internal di kawasan Obvitnas. Koordinasi intensif antara pengelola objek vital dan kepolisian harus diperkuat untuk mengantisipasi potensi gangguan saat aksi massa buruh. Perwakilan pimpinan rapat menegaskan bahwa evaluasi ini adalah langkah proaktif, bukan reaktif. Polri bersama Kemenko Polkam berkomitmen menciptakan ekosistem investasi dan operasional industri yang aman serta terlindungi demi kemajuan ekonomi nasional. Semoga setelah rapat ini, tidak ada lagi Obvitnas yang menjadi titik lemah pertahanan negara.(Avs)

1.200 Personel Polresta Sidoarjo Disiagakan: May Day 2026 Berlangsung Humanis dan Terkendali


Senja di Lapangan Mako Polresta Sidoarjo mendadak berubah menjadi panggung kesiapan penuh wibawa pada Rabu (29/4/2026). Wakapolresta AKBP Mohammad Zainur Rofik memimpin langsung apel akbar yang dihadiri 1.200 personel, sekaligus menggelar Electronic Tactical Game (ETG) untuk menguji taktik menghadapi berbagai skenario aksi massa. Pengecekan menyeluruh terhadap sarana dan prasarana dilakukan, memastikan tidak ada satupun kebutuhan pengamanan yang terlewat. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Polresta Sidoarjo serius menjadikan peringatan Hari Buruh Internasional 2026 sebagai momentum yang aman dan tertib.

Ribuan personel tersebut nantinya akan disebar di titik-titik strategis wilayah Sidoarjo, mulai dari kawasan industri hingga pusat perkantoran. AKBP Zainur Rofik menegaskan bahwa seluruh anggota harus meningkatkan kewaspadaan, kesiapsiagaan, serta disiplin tanpa mengabaikan standar operasional prosedur yang berlaku. Tidak hanya itu, pendekatan profesional dan proporsional menjadi kunci agar setiap tugas di lapangan berjalan sesuai harapan. Peringatan May Day kali ini benar-benar dirancang sebagai ruang aman bagi buruh menyampaikan aspirasi.

Yang membedakan pengamanan tahun ini adalah komitmen kuat pada pendekatan humanis dan persuasif. Wakapolresta Sidoarjo secara gamblang menginstruksikan agar personel tidak bertindak represif, melainkan melayani massa aksi dengan sikap ramah namun tetap waspada. Filosofi ini sekaligus menjawab kekhawatiran publik bahwa kehadiran aparat seringkali menimbulkan ketegangan. Sebaliknya, 1.200 personel justru diharapkan menjadi jembatan dialog antara buruh dan pemangku kebijakan.

Dengan segala kesiapan ini, Polresta Sidoarjo optimistis peringatan Hari Buruh 2026 berlangsung kondusif tanpa insiden berarti. AKBP Zainur Rofik mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap tenang dan mendukung jalannya aksi secara damai. Pelayanan pengamanan yang mengedepankan kemanusiaan ini diharapkan menjadi standar baru bagi pengamanan aksi massa di masa mendatang. Masyarakat pun diimbau tidak mudah terprovokasi isu-isu yang dapat merusak ketertiban bersama.(Avs)

Selasa, 28 April 2026

Jantung Idul Adha Tetap Sehat, Bhabinkamtibmas Wates Periksa Kambing dari Kandang


AIPTU Gunardi, Bhabinkamtibmas Desa Wates, tidak hanya sibuk dengan urusan keamanan tetapi kini juga sibuk memegang leher kambing warga sambil memeriksa suhu tubuh dan kebersihan bulunya. Menjelang Idul Adha 1447 H yang jatuh pada 27 Mei 2026, ia turun langsung memantau kesehatan puluhan kambing milik warga binaannya sebagai bentuk dukungan nyata Polri terhadap ketahanan pangan melalui sektor peternakan rakyat.

Warga setempat mulai merasakan manfaat dari pendampingan ini karena kambing yang sehat dan terawat jelas memiliki harga jual lebih tinggi saat musim kurban tiba. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan mengungkapkan bahwa pengecekan rutin seperti suhu tubuh, kebersihan kandang, hingga kecukupan pakan adalah langkah preventif yang melindungi investasi ternak warga dari potensi kerugian akibat penyakit menular.

Di lapangan, AIPTU Gunardi tidak hanya memeriksa fisik hewan, tetapi juga berdialog intensif dengan peternak tentang cara mengatur jadwal vaksinasi dan tanda-tanda awal penyakit yang sering muncul pada kambing menjelang musim hujan. Hasil pantauan menunjukkan sebagian besar kambing dalam kondisi prima, meski ada beberapa yang perlu segera mendapat perhatian ekstra soal asupan pakan bergizi.

Kompol H. Ahmad Junaedi menegaskan bahwa pendekatan preventif dari Bhabinkamtibmas ini akan terus digalakkan karena setiap kambing sehat yang siap kurban adalah kontribusi besar bagi kelancaran ibadah warga dan stabilitas ekonomi peternak lokal menjelang hari raya.(Avs)

Pekarangan Sempit Jadi Lumbung Hidup yang Tekan Belanja Harian Warga Sambirejo


Pekarangan sempit di Desa Sambirejo, Nganjuk, kini bertransformasi menjadi lumbung sayur yang aktif menekan pengeluaran rumah tangga berkat pendampingan ketat dari Bhabinkamtibmas BRIPTU M. N. R Bayu Segara. Ia rutin memantau langsung lahan warga yang ditanami cabai, terong, dan tomat sebagai bagian dari gerakan Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang menggerakkan ekonomi lokal.

Ketergantungan pada pasar tradisional mulai berkurang karena setiap keluarga bisa memanen sayuran segar hanya dengan melangkah ke halaman belakang. AKBP Suria Miftah Irawan, Kapolres Nganjuk, menegaskan bahwa pengawasan rutin dari aparat kepolisian ini dirancang untuk mendorong kemandirian pangan sekaligus menstabilkan pengeluaran dapur warga.

Komoditas cabai, terong, dan tomat sengaja dipilih karena masa panennya singkat, perawatannya mudah, serta memiliki nilai jual yang menggiurkan saat harga pasar melonjak. Di lapangan, BRIPTU Bayu tidak hanya memeriksa kondisi tanaman, tetapi juga berdialog intensif dengan warga soal teknik pemupukan dan pengendalian hama agar hasil tidak mengecewakan.

Kompol H. Ahmad Junaedi menegaskan bahwa sinergi antara Bhabinkamtibmas dan warga ini membuktikan bahwa satu pekarangan yang produktif mampu menjadi benteng ekonomi keluarga yang tangguh dan berkelanjutan.(Avs)

Kapolres Situbondo: Personel yang Tak Lulus Tes BLS Tidak Boleh Pulang, Demi Keselamatan di Lapangan


Polres Situbondo Polda Jatim mengambil langkah berani dengan menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Situbondo untuk melatih seluruh personelnya dalam teknik Basic Life Support (BLS) pada Senin (27/4/2026) di Rupatama Tantya Sudhirajati. Yang menarik, pelatihan ini menghadirkan dr. Kartika Ikrama Shafirlana, Sp.O.G., yang juga merupakan Ketua Bhayangkari Cabang Situbondo Ny. Lana Bayu AS, bersama dr. Budiman Bahagia, Sp.An., dan tim dokter IDI. Kapolres Situbondo AKBP Bayu Anuwar Sidiqie, S.H., S.I.K., M.Sc., membuka acara dengan pernyataan tegas: setiap personel yang tidak lulus ujian akhir BLS tidak diizinkan pulang, karena kemampuan menyelamatkan nyawa adalah bagian tak terpisahkan dari tugas polisi yang kerap menjadi orang pertama di lokasi kejadian darurat.

Dalam sambutannya, Kapolres Situbondo menekankan bahwa situasi gawat darurat yang mengancam nyawa bisa terjadi kapan saja dan di mana saja saat anggota sedang bertugas. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, bentrokan massa, hingga bencana alam, anggota Polri sering kali menjadi orang pertama yang tiba di TKP sebelum ambulans atau tenaga medis datang. Tanpa kemampuan BLS yang memadai, nyawa korban yang sebenarnya masih bisa diselamatkan justru melayang karena penanganan yang terlambat atau salah. Karena itulah, pelatihan ini bukan sekadar seremonial, tetapi kebutuhan mendesak yang harus dikuasai oleh semua personel, dari perwira hingga anggota lapangan.

Pelatihan yang berlangsung seharian ini diikuti oleh Pejabat Utama Polres Situbondo, Kapolsek jajaran, Perwira Staf, serta anggota Polres Situbondo. Mereka mendapatkan pemaparan materi dari IDI, sesi tanya jawab interaktif, dan yang terpenting: praktik langsung penanganan medis darurat yang didampingi oleh tim dokter. Mulai dari cara memeriksa respons korban, membuka jalan napas, melakukan kompresi dada yang benar, hingga teknik resusitasi jantung paru (RJP) dengan perbandingan tekanan dan napas yang tepat. Semua peserta wajib menunjukkan kemampuan praktik mereka di hadapan tim dokter, karena Kapolres tidak main-main dengan standar kelulusan.

Kapolres Situbondo juga menyisipkan tiga pesan moral yang mengakar: tingkatkan keimanan dan ketakwaan, niatkan tugas sebagai ibadah, dan jangan pernah bosan bersyukur. Dengan pelatihan BLS yang dipandu IDI ini, diharapkan setiap personel Polres Situbondo tidak hanya menjadi penegak hukum yang tegas, tetapi juga penyelamat hidup pertama yang andal di masyarakat. Saat kecelakaan terjadi di jalan raya Situbondo, warga kini bisa berharap bahwa polisi yang datang pertama kali tidak hanya memasang garis polisi, tetapi juga langsung melakukan tindakan medis dasar yang bisa membedakan antara hidup dan mati. Polres Situbondo membuktikan bahwa menjadi polisi berarti siap menyelamatkan nyawa, bukan hanya menegakkan pasal.(Avs)

Jembatan Blandongan Hampir Ambrol, Polres Ngawi Turun Tangan: Kini Kokoh dan Cantik Berkat Merah Putih Presisi


Warga Dusun Blandongan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kini bisa bernapas lega. Jembatan yang selama bertahun-tahun menjadi akses vital bagi anak-anak pergi sekolah dan warga beraktivitas sehari-hari itu sebelumnya dalam kondisi memprihatinkan, dengan struktur rapuh dan pagar yang nyaris tidak berfungsi. Namun dalam waktu kurang lebih seminggu, Polres Ngawi melalui program Jembatan Merah Putih Presisi berhasil menyulap jembatan tersebut menjadi bangunan yang kokoh, aman, dan bahkan lebih cantik dengan cat baru yang menawan. Peresmian fungsional jembatan ini disambut haru oleh warga yang diwakili Kepala Desa Eko Budi Sudarmanto, yang mengucapkan syukur tak terhingga atas perhatian Kapolres Ngawi AKBP Prayoga Angga Widyatama.

Kondisi jembatan sebelum diperbaiki sungguh mengkhawatirkan. Pagar pembatas yang sudah miring dan keropos nyaris tidak bisa mencegah siapa pun jatuh ke sungai, sementara lantai jembatan retak di beberapa bagian menimbulkan kekhawatiran setiap kali ada kendaraan roda dua melintas. Anak-anak yang setiap pagi menyeberang untuk berangkat sekolah harus ekstra hati-hati, dan warga yang membawa hasil kebun ke pasar sering memilih memutar jalan meski jauh lebih panjang. Kini, setelah direvitalisasi Polres Ngawi, struktur jembatan terasa kokoh saat diinjak, pagar pengaman dipasang hingga ke ujung-ujung, dan cat merah putih yang cerah membuat jembatan ini bukan hanya aman, tetapi juga estetis.

Kepala Desa Eko Budi Sudarmanto, mewakili warga yang selama ini merasakan langsung penderitaan akibat jembatan rusak, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolres Ngawi. Menurutnya, kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak hanya dirasakan saat ada kejahatan atau kecelakaan, tetapi sekarang hadir dalam bentuk perhatian nyata terhadap infrastruktur yang menyelamatkan nyawa. Anak-anak sekarang bisa berangkat sekolah dengan tenang tanpa rasa takut jembatan akan ambruk, dan orang tua pun tidak perlu was-was setiap kali anggota keluarga keluar rumah. Ini adalah bentuk kepedulian yang langka, tetapi sangat dibutuhkan di pelosok seperti Dusun Blandongan.

Kapolres Ngawi AKBP Prayoga Angga Widyatama menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur yang berdampak langsung bagi masyarakat adalah wujud komitmen Polri dalam memberikan pelayanan terbaik, bukan hanya di bidang keamanan tetapi juga di bidang kemanusiaan. Jembatan Merah Putih Presisi ini diharapkan dapat menunjang aktivitas warga sekaligus meningkatkan keselamatan masyarakat secara keseluruhan. Dengan selesainya perbaikan ini, konektivitas warga Dusun Blandongan menjadi semakin lancar, dan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta kelancaran pendidikan di wilayah tersebut. Polri, melalui Kapolres Ngawi, berjanji akan terus hadir di tengah masyarakat untuk memberikan kontribusi nyata, dan jembatan ini adalah buktinya.(Avs)

Polantas Nganjuk Sisipkan Pesan Keselamatan di Tengah Pengajian, Remaja Masjid Nurul Huda Antusias


Rabu (29/4/2026) menjadi hari yang istimewa bagi remaja peserta pengajian di Masjid Nurul Huda, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Di sela-sela kegiatan keagamaan yang dikawal ketat oleh Satlantas Polres Nganjuk, anggota Polantas Menyapa menyisipkan materi edukasi lalu lintas yang ringan namun membekas. Bukan sekadar berdiri menjaga pintu masjid, para petugas dengan humanis menyampaikan pentingnya menggunakan helm, menjauhi balapan liar, serta mematuhi rambu-rambu saat berkendara. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa Polri tidak hanya hadir untuk mengamankan acara, tetapi juga memanfaatkan setiap momentum untuk menanamkan nilai keselamatan sejak dini kepada generasi muda.

Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan, S.H., S.I.K., M.I.K., menjelaskan bahwa pembinaan kepada remaja tidak harus selalu dalam ruang formal seperti sekolah atau ruang sidang. Menurutnya, kegiatan sosial dan keagamaan yang dekat dengan keseharian anak muda justru menjadi media yang lebih efektif karena pesan disampaikan dalam suasana santai dan penuh kebersamaan. Ia menegaskan bahwa tertib berlalu lintas adalah bagian dari disiplin dan kepatuhan terhadap hukum secara umum, sehingga jika generasi muda terbiasa taat di jalan, mereka juga cenderung taat dalam aspek kehidupan lainnya. Inilah alasan mengapa Polantas Nganjuk terus menggencarkan program Polantas Menyapa di berbagai komunitas, termasuk di masjid-masjid.

Dalam pelaksanaannya, anggota Satlantas tidak memberikan ceramah panjang yang membosankan, melainkan sesi dialog interaktif yang membuat remaja betah. Mereka bertanya tentang batas aman berkendara, risiko tidak memakai helm, hingga sanksi jika ketahuan melawan arus. Beberapa remaja bahkan mengaku baru sadar bahwa kebiasaan mereka mengendarai motor tanpa SIM atau berboncengan tiga ternyata memiliki konsekuensi hukum yang serius. Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Ivan Danara Oktavian, S.Tr.K., S.I.K., M.H., menambahkan bahwa program Polantas Menyapa tidak hanya menyasar pengguna jalan di pusat keramaian, tetapi secara khusus menyasar remaja sebagai calon pengendara masa depan yang belum terbentuk kebiasaan berkendaranya.

Edukasi kepada remaja, lanjut AKP Ivan, sangat penting karena kelompok usia ini paling rentan terhadap pelanggaran lalu lintas sekaligus paling mungkin menjadi korban kecelakaan akibat ketidaktahuan atau kelalaian. Dengan menanamkan mindset bahwa keselamatan adalah kebutuhan, bukan sekadar aturan yang harus ditakuti, Satlantas Polres Nganjuk berharap tercipta generasi muda yang sadar hukum, disiplin, dan mampu menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas di lingkungan masing-masing. Pengajian di Masjid Nurul Huda hari itu tidak hanya menyejukkan hati dengan ayat-ayat suci, tetapi juga mencerahkan jalan pikiran tentang bagaimana menjaga nyawa sendiri dan orang lain saat berada di jalan raya.(Avs)

3 Taruna Akpol Turun Gunung, Pencak Silat Indonesia Raih 4 Emas di Belgium Open 2026


Tim Nasional Pencak Silat Indonesia baru saja menorehkan sejarah manis di ajang Belgium Open Pencak Silat Championship 2026 yang digelar di Schoten, Belgia pada 24–27 April 2026. Dengan kekuatan 9 atlet dan 2 pelatih, kontingen Pelatnas berhasil membawa pulang 4 medali emas dan 1 medali perak, menegaskan kembali bahwa Indonesia adalah raksasa pencak silat dunia yang tak tergoyahkan. Yang paling membanggakan, tiga dari atlet peraih emas tersebut adalah taruna Akademi Kepolisian (Akpol), membuktikan bahwa Polri tidak hanya unggul dalam menjaga keamanan, tetapi juga mencetak generasi muda bermental juara di kancah internasional. Keberhasilan ini datang hanya sehari setelah atlet Polri meraih juara umum di ajang taekwondo di Jepang, menunjukkan tren positif yang sulit diabaikan.

Rincian medali emas datang dari berbagai kategori: M. Zaki Zikrilah Prasong (Taruna Akpol) di Kelas B Putra, Iqbal Chandra Pratama di Kelas F Putra, Safira Dwi Meilani di Kelas C Putri, serta Regu Putra yang diperkuat oleh Asep Yuldan Sani, Rano Slamet Nugraha (Taruna Akpol), dan Andika Dhani Reksa (Taruna Akpol). Satu medali perak disumbangkan oleh Tito Hendra Septa Kurnia di Kelas E Putra. Dominasi taruna Akpol di nomor regu dan perorangan ini menjadi sinyal bahwa regenerasi atlet pencak silat Indonesia berada di tangan yang tepat, dengan pembinaan yang terstruktur dan penuh disiplin ala kepolisian. Belgium Open kali ini bukan sekadar kompetisi, melainkan panggung pembuktian bahwa usia muda bukan penghalang untuk bersaing di level dunia.

Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Dedi Prasetyo, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas capaian yang diraih dalam waktu kurang dari satu minggu setelah kejuaraan taekwondo di Osaka, Jepang. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah hasil nyata dari pembentukan Komite Olahraga Polri sejak tahun 2024, yang menjadi wadah sistematis untuk pembinaan sekaligus penjaminan hak-hak atlet Polri yang berprestasi. Peran Wakabareskrim Polri, Nunung Syaifuddin, yang bertindak sebagai Manager Timnas Pencak Silat Indonesia juga tak kalah penting; di bawah kepemimpinannya, pembinaan atlet berjalan semakin profesional, terukur, dan berkelanjutan hingga mampu menembus podium internasional. Polri membuktikan bahwa investasi di bidang olahraga bukan sekadar gimmick, tetapi strategi jangka panjang mencetak kebanggaan bangsa.

Prestasi di Belgia ini menjadi modal psikologis yang sangat berharga menjelang SEA Games 2027 di Malaysia. Timnas Pencak Silat Indonesia kini optimistis untuk mempertahankan tradisi emas dan kembali mengharumkan nama bangsa di kancah Asia Tenggara. Keberhasilan para atlet, terutama para taruna Akpol yang masih muda, diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk tak gentar bersaing di tingkat dunia, menjunjung tinggi sportivitas, dan menjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa. Polri melalui Komite Olahraga Polri berkomitmen untuk terus mendukung penuh setiap langkah atlet berprestasi, karena setiap medali yang diraih adalah bukti nyata bahwa Indonesia bisa, selama ada sistem, pembinaan, dan semangat juang yang tak pernah padam.(Avs)

Senin, 27 April 2026

Bukan Sekadar Lulus Ujian, Aiptu Harianto Bimbing Pemohon SIM di Nganjuk Agar Mahir Berkendara


Rasa gugup dan kurang persiapan sering menjadi penyebab utama kegagalan dalam ujian praktik Surat Izin Mengemudi (SIM). Menyadari hal ini, Satlantas Polres Nganjuk melalui program Polantas Menyapa menggelar coaching clinic yang dipandu langsung oleh Aiptu Harianto di Satpas SIM Polres Nganjuk pada Selasa (28/4/2026). Kegiatan ini dirancang khusus untuk membekali para pemohon SIM dengan pemahaman teknis yang matang sebelum menghadapi tes praktik, sehingga mereka tidak hanya sekadar lulus, tetapi juga benar-benar mampu berkendara dengan aman di jalan raya. Pendampingan ini menjadi bukti bahwa pelayanan publik bisa bersifat edukatif, tidak hanya administratif.

Dalam sesi coaching clinic, Aiptu Harianto tidak hanya memberikan teori di ruang tertutup, tetapi juga melakukan pendampingan praktis langsung mengenai teknik berkendara yang benar. Mulai dari cara menjaga keseimbangan kendaraan roda dua, penggunaan rem dan kopling yang tepat saat berhenti dan mulai bergerak, hingga pemahaman mendetail tentang rambu-rambu lalu lintas dan lintasan yang akan dilalui saat ujian praktik. Semua materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contoh nyata yang sering ditemui di lapangan, sehingga pemohon tidak lagi merasa asing dengan skenario ujian yang akan mereka hadapi.

Kasat Lantas Polres Nganjuk, AKP Ivan Danara Oktavian, S.Tr.K., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa kegiatan coaching clinic ini adalah wujud komitmen Satlantas dalam menghadirkan pelayanan yang edukatif sekaligus humanis bagi masyarakat. Menurutnya, tujuan akhir bukanlah sekadar kelulusan, melainkan terciptanya pengendara yang bertanggung jawab dan sadar akan keselamatan berlalu lintas. Dengan pendekatan yang komunikatif, para pemohon juga diberi ruang untuk bertanya tentang hal-hal yang masih membingungkan, mulai dari teknik parkir hingga cara menghadapi persimpangan yang ramai. Suasana santai namun serius ini terbukti efektif mengurangi rasa tegang yang biasa dialami peserta ujian.

Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, karena mereka merasa diperhatikan dan dibimbing, bukan sekadar dinilai. Satlantas Polres Nganjuk berharap melalui coaching clinic ini, kualitas pengendara di jalan raya Kabupaten Nganjuk semakin meningkat, sehingga dapat mendukung terciptanya situasi lalu lintas yang aman, tertib, dan lancar. Program Polantas Menyapa seperti ini direncanakan akan terus digelar secara rutin, mengingat manfaatnya yang besar bagi masyarakat. Bukan hanya SIM yang didapat, tetapi keselamatan berkendara seumur hidup yang sesungguhnya adalah hadiah terbesar dari persiapan yang matang sejak awal.(Avs)

Bhabinkamtibmas Ngadirejo: Dari Pohon Pepaya di Pekarangan, Ketahanan Pangan Keluarga Terjaga


Selasa (28/4/2026) menjadi hari yang istimewa bagi warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Warujayeng, Nganjuk, karena Bhabinkamtibmas setempat, BRIGPOL Risky Munfarida, memantau langsung lahan Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang ditanami pohon pepaya. Pemantauan ini bukan sekadar inspeksi rutin, melainkan upaya nyata memastikan bahwa setiap keluarga yang sudah menanam pepaya dapat memanen buah bergizi dari halaman rumah mereka sendiri. Program ini menjadi bagian dari gerakan nasional ketahanan pangan yang dikawal Polri hingga tingkat desa, membuktikan bahwa polisi bisa menjadi mitra tani yang handal. Pepaya dipilih karena mudah dibudidayakan, tidak memerlukan perawatan rumit, dan memiliki nilai gizi tinggi untuk konsumsi harian keluarga.

Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan, S.H., S.I.K., M.I.K., menegaskan bahwa keterlibatan aktif Bhabinkamtibmas di desa binaan adalah bentuk dukungan nyata Polri terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat keluarga. Melalui pendampingan langsung kepada warga, Polri ingin memastikan setiap potensi lahan, sekecil apa pun, dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan sumber pangan yang bergizi dan berkelanjutan. Tanaman pepaya menjadi pilihan strategis karena masa panennya yang berkelanjutan; begitu pohon mulai berbuah, keluarga bisa memanen pepaya setiap minggu tanpa harus menanam ulang. Ini solusi jangka panjang yang hemat tenaga dan biaya.

Di lapangan, BRIGPOL Risky Munfarida tidak hanya memeriksa kesehatan pohon pepaya, tetapi juga berdialog hangat dengan warga tentang kendala yang dihadapi, mulai dari serangan hama kutu daun hingga cara pemupukan yang benar. Ia memberikan motivasi agar warga tidak mudah menyerah jika ada pohon yang mati, karena kegagalan adalah bagian dari proses belajar berkebun. Kapolsek Warujayeng Kompol H. Ahmad Junaedi, S.H., mendukung penuh langkah ini dan menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendorong seluruh Bhabinkamtibmas di wilayahnya untuk aktif menjadi penggerak ketahanan pangan. Menurutnya, pendampingan seperti ini tidak hanya menghasilkan buah pepaya, tetapi juga buah kepercayaan antara polisi dan warga.

Melalui kegiatan pemantauan yang berkelanjutan, diharapkan masyarakat Desa Ngadirejo semakin sadar akan pentingnya memanfaatkan lahan pekarangan sebagai langkah sederhana namun efektif dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Bukan hanya pepaya, ke depan warga juga didorong menanam tanaman produktif lain seperti pisang atau sayuran. Polsek Warujayeng berkomitmen untuk menjadikan program ini sebagai contoh bagi desa-desa lain di Nganjuk, karena jika setiap rumah memiliki setidaknya dua pohon pepaya, kebutuhan vitamin keluarga akan tercukupi tanpa belanja mahal. Inilah polisi modern: menjaga perut rakyat, bukan hanya menjaga keamanan.(Avs)

Bukan Sekadar Polisi, Bhabinkamtibmas Kedungrejo Jadi Penggerak Ketahanan Pangan Nasional


Di tengah gencarnya program ketahanan pangan nasional, seorang Bhabinkamtibmas di Desa Kedungrejo, Polsek Warujayeng, BRIPKA Miftakhul Hadi, K., mengambil peran tak biasa: ia turun langsung memantau lahan Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) milik warga binaannya pada Selasa (28/4/2026). Pemantauan ini bukan sekadar inspeksi rutin, melainkan upaya nyata memastikan setiap jengkal lahan pekarangan tetap produktif dan mampu menyuplai sumber pangan bergizi untuk kebutuhan keluarga sehari-hari. Langkah kecil di tingkat desa ini menjadi bagian dari gerakan besar Polri dalam mengawal program pemerintah hingga ke akar rumput, membuktikan bahwa polisi bisa menjadi mitra strategis dalam urusan pangan, bukan hanya keamanan.

Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan, S.H., S.I.K., M.I.K., menegaskan bahwa keberadaan Bhabinkamtibmas sebagai penggerak ketahanan pangan adalah komitmen nyata Polri dalam mendukung kemandirian pangan keluarga. Menurutnya, melalui Bhabinkamtibmas, Polri terus hadir memberikan motivasi dan pendampingan kepada masyarakat agar pemanfaatan lahan pekarangan dapat berjalan maksimal dan berkelanjutan. Program P2B dinilai sangat efektif karena fleksibel: warga bisa menyesuaikan jenis tanaman dengan potensi lahan yang mereka miliki dan kebutuhan spesifik rumah tangga masing-masing, sehingga tidak ada lahan yang terbuang sia-sia.

Di lapangan, BRIPKA Miftakhul Hadi, K. tidak hanya memantau perkembangan tanaman, tetapi juga duduk bersama warga untuk berdialog dan menggali kendala yang mereka hadapi dalam perawatan sayur, buah, atau tanaman obat keluarga. Dari masalah hama, keterbatasan bibit, hingga kurangnya pengetahuan teknik tanam yang baik, semua dicatat dan dicarikan solusi bersama. Pendekatan humanis ini membuat warga tidak merasa diawasi, justru didampingi. Kapolsek Warujayeng Kompol H. Ahmad Junaedi, S.H., menambahkan bahwa pihaknya akan terus mendorong seluruh jajaran Bhabinkamtibmas di wilayahnya untuk mengadopsi pola serupa.

Harapan besar dipasang pada kegiatan ini: sinergi antara Polri dan masyarakat dalam mendukung ketahanan pangan nasional dapat terus terjalin dengan baik dan memberikan manfaat nyata di lingkungan desa. Bukan sekadar program seremonial, pendampingan rutin oleh Bhabinkamtibmas diharapkan mampu menumbuhkan semangat warga untuk memanfaatkan setiap sudut pekarangan mereka. Jika setiap desa di Indonesia memiliki tokoh seperti BRIPKA Miftakhul, kemandirian pangan bukan lagi mimpi, melainkan realitas yang tumbuh subur dari halaman rumah sendiri.(Avs)

Menteri PPPA Beri Penghargaan ke Ditres PPA-PPO Polda Jatim: 1 dari 2 Anak di Indonesia Pernah Alami Kekerasan


Dalam rangkaian seminar nasional bertajuk "Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata Menghapus Kekerasan Seksual Berbasis Relasi Kuasa" yang digelar Polda Jatim di Surabaya pada Senin (27/4/26), Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi secara khusus memberikan penghargaan kepada Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA-PPO) Polda Jatim. Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi atas peran aktif direktorat tersebut dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, mulai dari penegakan hukum, upaya pencegahan, hingga perlindungan hak-hak korban. Pemberian penghargaan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa kerja keras kepolisian di tingkat daerah mendapat pengakuan langsung dari kementerian.

Menteri Arifah Fauzi memaparkan data mengejutkan di hadapan para peserta seminar: berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional Tahun 2024 yang dilakukan Kementerian PPPA bersama Universitas Indonesia dan BPS, tercatat 1 dari 4 perempuan di Indonesia usia 15 hingga 64 tahun pernah mengalami kekerasan. Lebih memprihatinkan lagi, hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Tahun 2024 menunjukkan bahwa 1 dari 2 anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya, dengan bentuk kekerasan emosional sebagai yang paling dominan. Angka-angka ini menjadi latar belakang mengapa penghargaan dan seminar semacam ini sangat krusial untuk terus mengingatkan semua pihak bahwa darurat kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar isu, tetapi realitas harian.

Salah satu akar masalah yang diangkat menteri dalam sambutannya adalah faktor relasi kuasa antara pelaku dan korban, yang kerap membuat korban enggan melapor karena rasa hormat, ketergantungan, atau ketakutan terhadap pelaku. Arifah menegaskan bahwa relasi kuasa ini harus diminimalisir agar korban mendapatkan keberanian untuk berbicara dan melaporkan kekerasan yang dialaminya. Seminar nasional yang digelar Polda Jatim ini diharapkan menjadi momentum lahirnya solusi nyata, bukan sekadar diskusi akademik, untuk membangun kesadaran masyarakat serta memperkuat sistem perlindungan terhadap perempuan dan anak di seluruh lapisan masyarakat.

Menteri PPPA juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Polda Jawa Timur yang turut mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut, dan berharap seminar ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial belaka. Ia mendorong agar hasil diskusi ditindaklanjuti dengan aksi nyata di lapangan, mengingat kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak boleh terjadi oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Penghargaan kepada Ditres PPA-PPO Polda Jatim menjadi bukti bahwa sinergi antara kementerian dan aparat penegak hukum mampu menghasilkan pengakuan nyata, sekaligus menjadi pemantik bagi daerah lain untuk meningkatkan komitmen perlindungan terhadap kelompok rentan.(Avs)

Polres Madiun Kota & Buruh: Bukan Sekadar Aksi Damai, Tapi Jogo Jatim


Menjelang peringatan May Day 2026, langkah strategis justru dimulai dari ruang silaturahmi, bukan dari pengerahan massa. Polres Madiun Kota mengundang Serikat Buruh Madiun Raya (SBMR) pada Senin (27/4/2026) di Lobby Pangeran Timur, sebagai upaya konkret menjaga stabilitas keamanan di tengah isu ekonomi yang memanas seperti kelangkaan BBM dan LPG. Kapolres AKBP Wiwin Junianto menegaskan bahwa kolaborasi antara kepolisian dan buruh adalah kunci utama mewujudkan "Jogo Jatim" – sebuah gerakan bersama menjaga kondusivitas wilayah. Silaturahmi ini bukan seremonial belaka, melainkan fondasi komunikasi harmonis menjelang Hari Buruh Internasional yang kerap rawan gesekan.

AKBP Wiwin secara terbuka mengapresiasi keterbukaan SBMR dan mengajak seluruh elemen buruh di Kota Madiun untuk berperan aktif dalam menciptakan kamtibmas yang aman, tertib, dan damai. Lebih dari itu, ia menyoroti isu krusial tentang distribusi BBM dan LPG yang sering kali menjadi pemicu keresahan masyarakat luas. Dengan nada tegas namun bersahabat, Kapolres berharap serikat buruh turun langsung mengawasi pendistribusian kebutuhan pokok tersebut agar tepat sasaran dan bebas dari praktik penyimpangan. Ajakan ini menunjukkan bahwa polisi memandang buruh sebagai mitra strategis, bukan objek pengamanan semata.

Ketua SBMR, Aris Budiono, menyambut baik ajakan tersebut dan berkomitmen penuh untuk menjaga situasi Kota Madiun tetap kondusif. Ia juga melaporkan rencana peringatan May Day 2026 yang sangat tertib: aksi damai di Alun-Alun Kota Madiun dilanjutkan dengan ziarah ke makam almarhum Benu Widodo, pendiri KASBI, di TPU Sembungan dengan estimasi peserta hanya sekitar 20 orang. Menurut Aris, setiap agenda dan potensi permasalahan akan selalu dikoordinasikan dengan Polres Madiun Kota terlebih dahulu, sehingga tidak ada ruang bagi aksi anarkis.

Hasil dari silaturahmi ini adalah sebuah babak baru hubungan industrial yang sejuk di wilayah Madiun. Polres dan buruh sama-sama menunjukkan kematangan demokrasi dengan mengedepankan dialog, bukan konfrontasi. Dengan sinergi ini, peringatan May Day 2026 di Kota Madiun diprediksi akan berlangsung aman, damai, dan bermartabat, sekaligus menjadi contoh bagi daerah lain bahwa buruh dan polisi bisa duduk bersama demi kepentingan bersama.(Avs)

Tak Biasa! Polres Bojonegoro Ubah Lahan Hutan Kosong Jadi Kebun Jagung dan Ketela Demi Ketahanan Pangan


Polres Bojonegoro bersama YKB Cabang Bojonegoro, Perum Perhutani KPH Bojonegoro, serta kelompok tani setempat mengubah wajah lahan kosong di Petak 127b, RPH Sampang, BKPH Dander, menjadi hamparan kebun jagung dan ketela yang produktif, Senin (27/4/26). Kapolres Bojonegoro AKBP Afrian Satya Permadi menjelaskan bahwa aksi tanam massal ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Yayasan Kemala Bhayangkari (YKB) ke-46 sekaligus wujud nyata dukungan Polri terhadap program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional. "Penanaman jagung pada momen peringatan hari jadi YKB ke-46 kali ini untuk mendukung dan mewujudkan ketahanan pangan," ujar AKBP Afrian di lokasi penanaman yang disulap dari lahan tidur menjadi ladang harapan.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolres Bojonegoro bersama Ketua YKB Cabang Bojonegoro, Ny. Dita Afrian, menyerahkan bantuan pupuk secara simbolis kepada perwakilan kelompok tani sebagai bentuk dukungan nyata terhadap sektor pertanian di wilayah hutan tersebut. AKBP Afrian menegaskan bahwa sinergi antara kepolisian, Bhayangkari, Perhutani, dan masyarakat adalah kunci utama dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan hutan secara produktif dan berkelanjutan. Lahan-lahan yang selama ini belum tergarap optimal kini memiliki nilai ekonomi dan strategis bagi ketahanan pangan lokal. "Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar," ungkapnya dengan optimisme yang menyebar ke para petani yang hadir.

Ketua YKB Cabang Bojonegoro, Ny. Dita Afrian, menambahkan bahwa bantuan stimulan berupa pupuk ini diharapkan dapat meringankan biaya produksi petani pada awal masa tanam yang biasanya menjadi kendala utama. Dengan adanya suntikan bantuan ini, para petani hutan di bawah naungan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) bisa lebih fokus pada proses penanaman dan perawatan, sehingga hasil panen nantinya bisa lebih maksimal. Sementara itu, Wakil Administratur Bojonegoro Barat Perum Perhutani, Kiswanto, menyatakan komitmen penuh perusahaannya untuk terus membuka akses kelola hutan bagi masyarakat. “Kami siap berkolaborasi dan mendukung program-program dari Kepolisian maupun pemerintah,” tegas Kiswanto, menandai babak baru kemitraan lintas sektor di Bojonegoro.

Penanaman jagung dan ketela di lahan hutan ini bukan sekadar seremoni belaka, melainkan langkah konkret Polres Bojonegoro dalam menjawab tantangan ketahanan pangan nasional dari tingkat akar rumput. Dengan mengoptimalkan lahan yang selama ini kurang produktif, Polres berharap tercipta ekosistem pertanian yang mandiri dan berkelanjutan. Ke depan, program serupa akan diperluas ke wilayah hutan lain di Bojonegoro, menjadikan polisi tidak hanya sebagai pengayom masyarakat tetapi juga pelopor ketahanan pangan. (Avs)

Minggu, 26 April 2026

Cukup Sekali Jepret: Polres Nganjuk Luncurkan E-TLE Handheld, Pelanggar Langsung Terekam Tanpa Harus Dihenti


Mulai Senin (27/4/2026), pengendara di Nganjuk yang menerobos marka, melawan arus, atau menggunakan ponsel saat berkendara tak perlu berharap petugas lengah, karena Polres Nganjuk melalui Satuan Lalu Lintas resmi mengoperasikan E-TLE Handheld, sebuah perangkat genggam khusus yang mampu merekam pelanggaran lalu lintas dalam satu kali foto lalu langsung mengirimkannya ke sistem nasional secara real-time. Kapolres Nganjuk AKBP Suria Miftah Irawan menjelaskan bahwa inovasi ini mengubah cara penindakan dari manual yang subjektif menjadi digital yang transparan dan profesional, di mana petugas yang berpatroli cukup membidikkan kamera smartphone khusus ke pelanggar, maka data kendaraan otomatis terdeteksi dan terekam. Sistem ini dirancang untuk membuat kesadaran berlalu lintas tidak lagi karena takut ditilang di tempat, tetapi karena pemahaman bahwa kepatuhan adalah kebutuhan utama keselamatan.

Dalam operasionalnya, Polres Nganjuk menyiapkan dua mekanisme: pertama, tilang tanpa henti di mana pelanggar direkam dari kejauhan dan surat konfirmasi dikirim ke alamat pemilik kendaraan sesuai data registrasi; kedua, verifikasi di tempat di mana petugas dapat menghentikan pelanggar untuk menunjukkan bukti foto cetak dan memberikan edukasi langsung. Sasaran utama sistem ini meliputi pengendara tanpa helm SNI, pengguna telepon genggam saat berkendara, pelanggar marka jalan, serta pengemudi yang melawan arus. Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Ivan Danara Oktavian menambahkan bahwa keunggulan E-TLE Handheld dibandingkan tilang manual terletak pada akurasi bukti, minimalisasi interaksi fisik di jalan, dan validitas data yang tidak bisa diganggu gugat karena langsung terintegrasi dengan pusat.

Kapolres menekankan bahwa program ini bukan sekadar gawai, melainkan bagian dari modernisasi pelayanan dan penegakan hukum lalu lintas yang lebih adil bagi semua pihak. Petugas tidak perlu lagi bersusah payah menulis surat tilang manual yang rawan kesalahan atau celah negosiasi, karena bukti digital sudah tersimpan rapi dan dapat diakses kapan saja. Dengan adanya sistem ini, Polres Nganjuk berharap terjadi perubahan perilaku massal di jalan raya, di mana setiap pelanggar sadar bahwa aksinya akan terekam tanpa perlu interaksi langsung dengan polisi. Transparansi data juga membuat masyarakat dapat mengecek pelanggaran mereka secara online, mengurangi potensi sengketa di lapangan.

Kehadiran E-TLE Handheld di Nganjuk menjadi bukti bahwa Polri terus beradaptasi dengan teknologi untuk menciptakan lalu lintas yang lebih tertib dan selamat. Polres Nganjuk optimistis dalam beberapa bulan ke depan angka pelanggaran dan kecelakaan di wilayah Kabupaten Nganjuk akan menurun drastis, karena efek jera tidak lagi datang dari rasa takut bertemu polisi, tetapi dari kesadaran bahwa kamera digital di tangan petugas akan selalu merekam setiap kesalahan. (Avs)

Dari Mei 2024 hingga Puncak Osaka: Bagaimana Komite Olahraga Polri Melahirkan Juara Umum Taekwondo Dunia


Hanya dua tahun setelah Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo meresmikan Komite Olahraga Polri (KOP) pada Mei 2024, hasil nyata muncul di pentas internasional ketika Tim Taekwondo Garbha Presisi PolRI menyabet juara umum The 22nd WATA Open International Taekwondo Championship 2026 di Osaka, Jepang. Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa kemenangan ini bukan kebetulan, melainkan efek dari sistem pembinaan yang menjamin hak-hak atlet Polri secara berkelanjutan, mulai dari pelatihan, fasilitas, hingga kesempatan bertanding. Kontingen berisi 15 atlet ini pulang dengan 14 medali emas, 5 perak, dan 2 perunggu, mengalahkan puluhan peserta negara lain di Ohama Arena Sakai.

Daftar peraih medali menunjukkan dominasi di semua lini: Bripda Rizky Irma Suryani dan Bripda M. Rizky Prasetya masing-masing juara poomsae individu, lalu pasangan Bripda Muhammad Rizky Prasetia dan Bripda Rizky Irma Suryani menyapu emas di poomsae pair. Di nomor kyorugi, para atlet Polri seperti Bripda Nyoman Aing Keysa Nanda (U-57 putri), Bripda Gigih Adhiyodha (U-63 putra), dan Bripda Muhamad Hafidz Rifqy Al Qorny (U-68 putra) juga tak terbendung. Medali perak dan perunggu dari Brigadir Ihya Ainizahra hingga Bripda Bagas Adyatma melengkapi pesta raihan yang menempatkan Indonesia di puncak klasemen akhir.

Official tim M. Rustam Febrianzah menyebut persiapan mental dan fisik yang intensif selama berbulan-bulan menjadi pembeda; para atlet Polri tidak hanya kuat secara teknik tetapi juga memiliki disiplin tinggi yang melekat dari keseharian mereka sebagai personel kepolisian. Wakapolri menyampaikan selamat langsung kepada seluruh atlet dan menegaskan bahwa KOP akan terus menjadi motor pengembangan bakat, tidak hanya untuk taekwondo tetapi juga cabang olahraga prestasi lainnya. Dukungan penuh dari Kapolri dinilai sebagai faktor kunci yang membuka ruang prestasi tanpa batas bagi personel Polri.

Keberhasilan di Osaka ini bukan sekadar piala, tetapi pesan kepada dunia bahwa Polri Indonesia serius dalam pembinaan olahraga prestasi. Dengan sistem yang sudah terbukti ini, Wakapolri optimis akan lahir lebih banyak atlet Polri yang mengharumkan nama Indonesia di berbagai kejuaraan internasional, sekaligus memperkuat citra positif Polri di mata masyarakat global. (Avs)

 

Top