Ngawi- Bagaimana caranya mengubah persepsi masyarakat tentang polisi dalam waktu singkat? Polres Ngawi menemukan jawabannya melalui Warung Kompas Presisi, sebuah program inovatif yang digelar setiap Jumat di Alun-Alun Ngawi, dan pada 7/8 lalu berhasil menorehkan kesan mendalam bagi puluhan warga yang hadir. Dipimpin AKP Agus Purwanto, kegiatan satu jam ini bukanlah seremoni seremonial, melainkan pertemuan intim yang menghapus jarak antara seragam cokelat dan keseharian rakyat biasa. Dengan menyajikan makanan dan minuman gratis sebagai pintu masuk, para personel perlahan-lahan membangun percakapan yang mengalir alami, dari soal harga sembako hingga rencana pembangunan desa, semua dibahas dengan santai namun serius. Dalam waktu 60 menit, wajah polisi yang selama ini dianggap angker dan jauh berubah menjadi sosok yang ramah, peduli, dan mudah dijumpai.
Antusiasme warga terlihat dari ramainya pengunjung yang tidak hanya datang untuk menikmati hidangan, tetapi juga untuk berbincang dan mencurahkan isi hati mereka tentang berbagai persoalan di lingkungan tempat tinggal. Seorang bapak paruh baya dengan jujur menceritakan tentang maraknya balap liar di desanya, sementara seorang ibu mengeluhkan sulitnya mendapatkan izin keramaian untuk acara pernikahan. AKP Agus Purwanto dan tim dengan sabar mendengarkan, memberi arahan, dan menjanjikan tindak lanjut yang jelas, sebuah bukti bahwa setiap suara warga dihargai dan diperhatikan. Tak ketinggalan, sosialisasi Call Center 110 juga menjadi perhatian, mengingat masih banyak warga yang belum mengetahui bahwa bantuan polisi bisa diakses hanya dengan satu panggilan telepon.
Kapolres Ngawi AKBP Prayoga Angga Widyatama dalam arahannya menegaskan bahwa Warung Kompas Presisi dirancang untuk menjawab kerinduan masyarakat akan sosok polisi yang hadir bukan hanya saat ada musibah, tetapi juga dalam keseharian yang penuh canda dan tawa. Ia percaya bahwa komunikasi yang dibangun dalam suasana santai akan lebih efektif daripada pertemuan formal yang kaku, karena hati yang terbuka hanya terjadi ketika seseorang merasa nyaman dan tidak terintimidasi. Program ini juga menjadi alat ukur bagi Polres Ngawi untuk mengevaluasi sejauh mana pelayanan mereka sudah dirasakan oleh publik, serta area mana yang masih perlu perbaikan. Dengan pendekatan ini, ia berharap kepercayaan masyarakat terhadap Polri akan terus meningkat dari waktu ke waktu.
Menutup kegiatan, AKBP Prayoga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi agen keamanan dengan aktif melaporkan hal-hal mencurigakan di lingkungan masing-masing. Ia berjanji bahwa setiap laporan akan ditindaklanjuti dengan profesional dan transparan, tanpa diskriminasi dan tanpa biaya. Warung Kompas Presisi, menurutnya, adalah awal dari perjalanan panjang membangun Ngawi yang aman dan kondusif, di mana polisi dan masyarakat berjalan bergandengan tangan. Dengan komitmen yang kuat dan semangat kebersamaan, ia yakin cita-cita itu bukanlah mimpi, melainkan kenyataan yang akan terwujud dalam waktu dekat. (Avs)
.jpeg)
Posting Komentar