Jakarta- Enam bulan setelah diresmikan, Pusat Studi Kepolisian telah menghasilkan 48 buku yang menjadi tonggak akademik baru di lingkungan Polri. Wakapolri meresmikan pusat ini pada 10 Maret lalu sebagai wadah riset dan pengembangan ilmu kepolisian.
Ragam judul yang terbit mencakup bidang hukum, kriminologi, keamanan siber, hingga manajemen sumber daya manusia. Beberapa di antaranya telah dibedah dalam forum ilmiah untuk menguji relevansi gagasan dengan tantangan di lapangan.
Wakapolri menyebut bahwa pusat studi harus menjadi jembatan antara persoalan nyata dan kajian ilmiah. Beliau menekankan pentingnya evidence-based policing yang didukung data, penelitian, dan pengalaman empiris.
Buku-buku karya Wakapolri seperti Gamifikasi Kekerasan dan Mengawal Pangan Menuai Aman ikut mewarnai ekosistem literasi ini. Karya-karya lain dari para akademisi dan perwira tinggi juga turut memperkaya khazanah keilmuan kepolisian.
Bedah buku menjadi ruang kritik dan pengayaan gagasan bagi para penulis dan pembaca. Forum ini mempertemukan dosen, peneliti, mahasiswa, dan anggota Polri dalam dialog akademik yang konstruktif.
Wakapolri mengingatkan agar buku-buku ini dijadikan bekal bagi anggota yang bertugas di lapangan. Pengetahuan yang dibangun di ruang akademik harus mampu memberikan perspektif tambahan dalam menghadapi dinamika keamanan.
Pusat Studi Kepolisian didorong untuk terus berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lainnya. Semakin banyak penelitian dan buku yang lahir, semakin kuat pula fondasi kebijakan kepolisian di masa depan. (Avs)

Posting Komentar