Sukomoro-Nganjuk- Di tengah terik matahari yang membakar bumi Desa Bungur, Aipda Heru P. melangkah di antara barisan tanaman cabai yang mulai merunduk layu, bukan untuk bersedih, tetapi untuk mencari jalan keluar dari krisis air yang mengancam hasil panen petani. Sebagai Bhabinkamtibmas yang peduli pada ketahanan pangan, ia tahu bahwa tugasnya tidak berhenti pada keamanan desa, tetapi juga pada bagaimana memastikan lahan pertanian tetap produktif meskipun alam sedang tidak bersahabat. Dengan mata tajam dan hati yang penuh empati, ia mengamati setiap helai daun yang menguning, lalu duduk bersama petani untuk mendengar langsung apa yang menjadi keresahan utama mereka.
Petani yang ditemuinya mengungkapkan bahwa musim kemarau tahun ini terasa lebih panjang dan ganas dari biasanya, membuat cadangan air di sumur dan embung mulai menipis drastis. Ia bercerita bahwa sebagian tanamannya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda stres kekeringan, dan jika tidak segera ada solusi, ia khawatir hasil panen kali ini akan anjlok drastis. Aipda Heru mendengar dengan saksama, mencatat setiap detail, lalu meyakinkan petani bahwa ia tidak akan tinggal diam menghadapi situasi ini.
Dengan cepat, Aipda Heru menginisiasi gagasan untuk menerapkan sistem irigasi tetes, sebuah metode yang ia pelajari dari berbagai literasi pertanian modern yang dapat menghemat air hingga 70 persen lebih efisien. Ia menjelaskan bahwa teknologi ini bukanlah sesuatu yang rumit, melainkan bisa diaplikasikan dengan bahan sederhana dan biaya yang terjangkau, asalkan ada kemauan dan pendampingan yang tepat. Petani menyambut ide tersebut dengan antusias, karena selama ini mereka hanya mengandalkan cara konvensional yang boros air dan kurang efektif di musim kemarau.
Semangat baru pun menyala di antara petani dan Aipda Heru, yang berjanji akan segera berkoordinasi dengan dinas pertanian dan pihak terkait untuk mewujudkan solusi irigasi hemat air ini. Dari lahan cabai yang mulai mengering, muncullah optimisme bahwa dengan kerja sama dan inovasi, ketahanan pangan di Desa Bungur tetap bisa dipertahankan. Aipda Heru pulang dengan keyakinan bahwa setiap tetes air yang diselamatkan adalah tetes harapan bagi masa depan pertanian Indonesia. (Avs)
.jpeg)
Posting Komentar