Loceret-Nganjuk- Di balik ribuan butir telur yang dihasilkan setiap hari, tersimpan perjuangan berat para peternak ayam petelur yang harus berhadapan dengan kenaikan harga pakan yang tak pernah kompromi. Aiptu Sugeng Hariadi, Kanit Samapta Polsek Loceret, datang ke kandang-kandang di Kecamatan Loceret bukan hanya untuk memantau, tetapi untuk membuka mata dan telinga lebar-lebar terhadap realitas pahit yang dihadapi warga. Dengan semangat belajar yang tulus, ia menyusuri lorong kandang, mendengarkan setiap keluhan, dan meresapi bahwa ketahanan pangan tidak melulu soal produksi, tetapi juga soal keberlanjutan ekonomi di tingkat peternak.
Percakapan dengan sang pemilik kandang mengungkap dilema klasik yang tak kunjung usai: saat harga pakan meroket, harga telur justru jatuh, membuat keuntungan menyusut hingga titik paling tipis. Namun, alih-alih mengeluh tanpa henti, peternak itu memilih bertahan karena baginya usaha ini adalah nafas kehidupan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Aiptu Sugeng mengangguk paham, mencatat setiap angka dan cerita sebagai bahan evaluasi, lalu merespons dengan tawaran pendampingan yang tidak sekadar basa-basi.
Menariknya, Aiptu Sugeng tidak datang dengan sikap menggurui, melainkan dengan kerendahan hati sebagai seorang murid yang ingin memahami seluk-beluk budidaya ayam petelur dari ahlinya langsung. Ia mengaku bahwa untuk memberikan motivasi yang tepat, ia harus merasakan sendiri bagaimana susahnya mengatur jadwal pakan, membersihkan kandang, dan menghadapi fluktuasi pasar yang tak menentu. Sikap ini disambut hangat oleh peternak, yang merasa dihargai bukan hanya sebagai objek binaan, tetapi sebagai mitra dan guru.
Kunjungan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara Polri dan masyarakat tidak harus selalu formal, tetapi bisa dimulai dari keinginan tulus untuk saling belajar dan berbagi pengalaman. Aiptu Sugeng berharap bahwa langkah kecilnya ini akan menginspirasi aparat lain untuk turun ke lapangan dengan cara yang sama, membangun kemitraan yang kuat dan solutif. Dari kandang ayam petelur di Loceret, ia membawa pulang pelajaran berharga bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab kolektif yang membutuhkan keberanian untuk memahami, bukan sekadar memerintah. (Avs)

Posting Komentar