Jakarta- Polda Metro Jaya mengamankan puluhan senjata tajam dan bahan pembuatan bom molotov dalam operasi pencegahan gangguan keamanan menjelang penyampaian pendapat di kawasan DPR/MPR RI, dengan total 65 orang diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Dr. Iman Imanuddin mengungkapkan bahwa penyidik masih mendalami keterkaitan dan peran masing-masing pihak dalam rangkaian persiapan yang ditemukan.
"Penyidik masih mendalami siapa saja yang memiliki peran dalam proses perekrutan, pembiayaan, penyediaan sarana, pengorganisasian massa, maupun pihak yang memberikan perintah atau arahan," jelas Kombes Iman. Barang bukti yang diamankan meliputi 39 senjata tajam, dua airsoft gun, satu tabung gas airsoft gun, gotri, tiga stik golf, tujuh jeriken berisi bensin, serta 201 botol kaca berikut sumbu yang diduga akan digunakan sebagai bom molotov.
Petugas juga menemukan tas ransel, banner, pengeras suara, pilok, obat-obatan, dan telepon seluler yang turut diamankan untuk kepentingan penyidikan lebih lanjut. Penyidik menelusuri sumber pendanaan yang berkaitan dengan pengadaan barang-barang tersebut melalui keterangan para pihak, komunikasi digital, transaksi keuangan, serta barang bukti lain untuk memperoleh gambaran utuh mengenai rangkaian persiapan yang dilakukan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan bahwa langkah kepolisian bertujuan menjaga penyampaian aspirasi tetap berlangsung dalam ruang yang aman dan tidak membahayakan masyarakat. "Kami tidak membatasi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Yang kami cegah adalah potensi tindakan yang dapat membahayakan keselamatan, memicu kekerasan, atau mengganggu kepentingan masyarakat lainnya," ujar Kombes Budi.
Polda Metro Jaya juga gencar melakukan patroli ruang digital untuk mengantisipasi provokasi, disinformasi, fitnah, maupun konten kebencian yang berpotensi memicu keresahan di masyarakat. Situasi Jakarta hingga pukul 10.38 WIB terpantau aman dan terkendali, dengan aktivitas lalu lintas, pendidikan, ibadah, dan perekonomian tetap berjalan normal.
"Demokrasi memberi ruang bagi perbedaan pendapat, tetapi kekerasan tidak boleh mengambil ruang di dalamnya. Aspirasi harus tetap dapat disampaikan, sementara keselamatan masyarakat wajib kita jaga bersama," pungkas Kombes Budi. Polri akan terus melakukan langkah-langkah preventif untuk memastikan keamanan dan ketertiban tetap terjaga di tengah dinamika demokrasi yang berlangsung. (Avs)

Posting Komentar