Ngetos- Ketika sebagian besar orang masih berpikir bahwa ketahanan pangan adalah urusan dinas pertanian, Aiptu Prawoko justru membuktikan sebaliknya dengan langkah nyata di pekarangan warga. Program P2B yang ia gawangi bukan sekadar ajakan menanam, melainkan gerakan kolektif untuk mengubah pola pikir masyarakat terhadap potensi lahan tidur. Tomat yang kini tumbuh subur menjadi simbol bahwa kepolisian bisa menjadi ujung tombak kesejahteraan dari akar rumput.
Dialog yang terjalin antara kanit binmas dan petani tomat bukanlah obrolan biasa, melainkan ruang untuk menggali berbagai persoalan teknis hingga non-teknis di lapangan. Dari harga bibit hingga serangan hama, semua dibahas dengan hangat tanpa kehilangan esensi solusi yang konkret. Kedekatan ini menjadi kunci mengapa warga merasa nyaman berbagi keluhan yang selama ini mungkin terabaikan.
Kehadiran seragam cokelat di tengah kebun rupanya memberi rasa tenang yang berlipat ganda bagi para petani. Mereka tak hanya mendapat motivasi untuk terus produktif, tetapi juga merasa bahwa setiap jerih payah mereka diawasi dan dihargai oleh aparat yang peduli. Situasi kamtibmas yang kondusif pun lahir secara alami dari ruang-ruang percaya yang dibangun melalui percakapan sederhana di sela-sela panen.
Aiptu Prawoko menutup kunjungannya dengan janji untuk terus mengawal setiap aspirasi yang terkumpul hingga ke meja dinas terkait. Ia percaya bahwa keberlanjutan program ini bergantung pada sinergi antara polisi, petani, dan pemerintah daerah yang berjalan seirama. Dengan semangat kebersamaan, P2B bukan sekadar program, melainkan gaya hidup baru yang siap menjawab tantangan pangan masa depan. (Avs)
.jpeg)


.jpeg)


.jpeg)