Jakarta– Senin, 7 September 2026, Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo mengubah pendekatan penanganan Karhutla dari reaktif menjadi multi-approach policing yang antisipatif. Strategi ini mencakup prediksi berbasis data, pencegahan, teknologi, pelibatan masyarakat, dan penegakan hukum. Hal ini disampaikan saat membekali 322 personel Satgas Edukasi, Penyuluhan dan Pencegahan Karhutla gelombang kedua di STIK PTIK.
Personel yang terdiri dari 64 peserta Sespimti, 207 Sespimmen, dan 29 SPPK akan bertugas 10 hari di empat provinsi rawan karhutla. Wakapolri meminta mereka melakukan pembelajaran dan audit terhadap manajemen penanganan di lapangan. "Rekan-rekan adalah middle dan top manager, lihat bagaimana kebijakan dilaksanakan," tegasnya.
Predictive policing diusung dengan mengintegrasikan data hotspot, cuaca, dan kondisi muka air tanah. Hingga 6 September, tercatat 113.616 hotspot dengan 202.010 hektare lahan terbakar. Kondisi gambut di sejumlah wilayah sangat rawan, dengan muka air tanah mencapai -231 cm di Sumsel.
Wakapolri menekankan pengelolaan tata air melalui sekat kanal dan restorasi hidrologis. Kolaborasi dibangun dari tingkat nasional hingga tapak melibatkan berbagai pihak. Penegakan hukum juga menyasar korporasi dengan 8 perkara korporasi dari 200 laporan polisi. "Jangan berhenti pada pelaku di lapangan, lihat rantai pertanggungjawabannya," pungkasnya. (Avs)

Posting Komentar