Nganjuk- Senin pagi yang biasanya diisi dengan laporan administratif, kali ini dimanfaatkan Brigadir Putra untuk menukar meja kantor dengan gubuk sawah di Desa Sanggrahan. Dengan langkah mantap, ia melintasi pematang yang sempit dan berair, mendekati para petani yang sedang sibuk merawat jagung dan padi mereka. Ia tidak datang dengan agenda formal, tetapi dengan niat tulus untuk menjadi pendengar atas segala suka duka yang dialami para penggarap lahan di kecamatan Prambon.
Dalam interaksi akrab itu, Brigadir Putra menemukan fakta bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh teknologi canggih, melainkan oleh detail kecil seperti ketersediaan air dan harga pupuk yang terjangkau. Ia menampung segala unek-unek, dari keluhan tentang saluran irigasi yang tersumbat hingga harapan akan pendampingan teknis dari dinas pertanian. Proses penggalian aspirasi ini dilakukannya tanpa rasa canggung, karena baginya, tanah dan petani adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat yang wajib ia lindungi.
Lebih dari sekadar patroli keamanan, kegiatan ini mencerminkan pergeseran paradigma di mana polisi menjadi fasilitator bagi kemajuan ekonomi rakyat. Brigadir Putra menjelaskan bahwa informasi yang terkumpul dari dialog tersebut akan segera ia tindaklanjuti dengan koordinasi intensif, agar kendala di lapangan tidak dibiarkan mengakar. Ia ingin membuktikan bahwa institusi kepolisian peduli pada hasil panen, karena itu adalah cermin dari kesejahteraan masyarakat binaannya.
Langkah tersebut selaras dengan kebijakan Kapolres Nganjuk yang secara eksplisit meminta setiap Bhabinkamtibmas aktif menggerakkan sektor pangan di wilayah masing-masing. Brigadir Putra memahami bahwa menjadi penggerak tidak harus dengan proyek besar, tetapi cukup dengan memulai dari kebiasaan kecil seperti mendatangi lahan-lahan pertanian yang terabaikan. Dengan memetakan masalah di titik paling kritis, ia yakin solusi yang ditawarkan akan lebih tepat sasaran.
Salah satu petani jagung yang ditemui menyampaikan bahwa dialog langsung seperti ini menjadi oase di tengah rutinitas mereka yang keras dan penuh ketidakpastian cuaca. Ia berharap kepedulian Brigadir Putra tidak hanya sampai pada kata-kata penghibur, tetapi berlanjut pada aksi nyata yang mempermudah akses mereka terhadap modal dan peralatan. Kepercayaan mulai terbangun, karena petani merasa tidak ada lagi sekat antara mereka dan aparat keamanan.
Para petani kacang tanah dan padi pun mengakui bahwa komunikasi dua arah dengan polisi memberikan rasa aman yang lebih luas, tidak hanya dari gangguan kriminalitas, tetapi juga dari keresahan akan masa depan produksi mereka. Mereka menginginkan jadwal kunjungan yang teratur, sehingga setiap perubahan situasi di sawah bisa segera dikomunikasikan dan ditangani. Bagi mereka, kehadiran Bhabinkamtibmas di lahan pertanian adalah simbol bahwa negara hadir di tengah kesulitan mereka.
Di penghujung kegiatan, Brigadir Putra mengingatkan bahwa sawah adalah cermin peradaban, dan merawatnya berarti merawat masa depan bangsa. Ia berjanji untuk terus menjadi penghubung antara petani dan berbagai instansi, sehingga masalah sekecil apa pun di lahan pertanian tidak terabaikan. Dengan tekad ini, ia berharap Desa Sanggrahan dapat menjadi contoh bahwa kekuatan pangan dimulai dari kebersamaan antara polisi dan rakyat di bawah terik matahari. (Avs)

Posting Komentar