Nganjuk- Awan gelap mulai merangkak di ujung cakrawala Desa Gebangkerep ketika Aipda Kasmadi melangkah di antara barisan tanaman jagung yang tinggi menjulang, menandakan bahwa waktu panen tinggal menghitung hari. Sabtu (29/8) menjadi momen krusial di mana ia memilih hadir bukan untuk mengawasi, melainkan untuk memastikan bahwa petani tidak menghadapi situasi genting sendirian di tengah ancaman hujan yang kian mendekat. Baginya, kedekatan dengan petani adalah cara paling jitu untuk memahami urgensi lapangan sebelum masalah membesar.
Petani yang ditemui Aipda Kasmadi dengan antusias menjelaskan strategi mereka menanam lebih awal agar masa panen jagung dan melon bisa rampung sebelum musim penghujan benar-benar tiba. Mereka mengungkapkan bahwa keterlambatan satu minggu saja bisa berakibat fatal, karena buah yang terlalu matang akan pecah atau terserang penyakit akibat kelembapan tinggi. Informasi ini membuka mata Aipda Kasmadi bahwa pertanian adalah permainan ketepatan waktu yang tidak bisa ditawar-tawar.
Selain membahas soal cuaca, Aipda Kasmadi juga menggali informasi tentang kendala distribusi pupuk dan pestisida yang kerap terlambat datang ke tingkat desa pada saat-saat kritis. Petani menuturkan bahwa mereka sering kali harus membeli dengan harga lebih tinggi dari pengecer karena stok di kios resmi cepat habis. Hal ini menjadi catatan penting yang akan segera ia koordinasikan dengan dinas terkait untuk memastikan kelancaran rantai pasok sarana produksi pertanian.
Salah satu momen menarik terjadi ketika seorang petani melontarkan pertanyaan tentang legalitas penggunaan lahan bantaran sungai yang mereka garap selama bertahun-tahun tanpa kepastian hukum. Aipda Kasmadi memberikan penjelasan singkat tentang tata ruang dan mengarahkan mereka untuk mengurus hak pengelolaan melalui mekanisme yang benar agar tidak timbul sengketa di kemudian hari. Kedalaman diskusi ini menunjukkan bahwa peran Bhabinkamtibmas tidak sekadar tempelan, tetapi fungsi strategis dalam menyelesaikan persoalan struktural masyarakat.
Aipda Kasmadi juga mengingatkan pentingnya menjaga keamanan lahan dari pencurian hasil panen yang kerap terjadi menjelang musim panen raya. Ia mengusulkan pembentukan jadwal giliran ronda khusus di area pertanian dan memanfaatkan media sosial kelompok untuk saling memberi tahu jika ada gerak-gerik mencurigakan. Langkah sederhana ini diyakini efektif untuk mencegah kerugian yang selama ini sering dialami petani tanpa pelaku pernah tertangkap.
Kegiatan sambang yang berlangsung penuh keakraban ini membawa pesan mendalam bahwa ketahanan pangan nasional bertumpu pada desa-desa yang petaninya memiliki akses informasi dan rasa aman berusaha. Aipda Kasmadi menutup kunjungannya dengan janji untuk kembali memantau proses panen secara langsung, sekaligus memastikan bahwa semua aspirasi yang terkumpul tidak berakhir sia-sia. Di tengah ancaman hujan yang menggantung, ia percaya bahwa kerja sama dan kewaspadaan adalah benteng terakhir melindungi hasil bumi yang telah diperjuangkan dengan keringat dan doa. (Avs)
.jpeg)
Posting Komentar