ads

Iklan
LATEST UPDATES

Selasa, 31 Maret 2026

Senyum di Balik Meja SIM: Polantas Nganjuk Ganti Wajah Kaku dengan Sapaan Hangat


Suasana di Satpas SIM Polres Nganjuk pagi itu berbeda dari biasanya. Alih-alih terdengar suara mesin cetak kartu atau tumpukan formulir yang menunggu diproses, ada kehangatan yang tercipta dari interaksi sederhana antara petugas dan masyarakat. Rabu (1/4/2025) menjadi hari di mana Satlantas Polres Nganjuk mengimplementasikan program "Polantas Menyapa", sebuah pendekatan yang ingin mengubah paradigma pelayanan publik dari yang kaku menjadi ramah dan manusiawi. Aiptu Didik, dengan senyum lekat di wajah, menyapa setiap pemohon SIM seolah mereka adalah tamu yang dinanti.

Kasat Lantas Polres Nganjuk, AKP Ivan Danara Oktavian, menjelaskan bahwa program ini lahir dari kesadaran bahwa pelayanan publik tidak cukup hanya cepat dan tepat, tetapi juga harus menyentuh. Menurutnya, momen pemohon SIM datang ke Satpas adalah kesempatan emas untuk membangun kedekatan. Bukan sekadar mengurus dokumen, tetapi juga menanamkan kesadaran tentang keselamatan berlalu lintas dengan cara yang tidak menggurui. Polantas, dalam visi baru ini, hadir sebagai mitra yang mendampingi masyarakat untuk lebih disiplin dan selamat di jalan.

Dalam kegiatan yang dipimpin langsung oleh Aiptu Didik ini, setiap interaksi dimanfaatkan untuk berdialog. Petugas mendengarkan keluhan, menerima masukan, sekaligus memberikan pemahaman tentang pentingnya kelengkapan berkas dan kepatuhan berlalu lintas. AKP Ivan menambahkan bahwa pendekatan humanis seperti ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya masyarakat terhadap Polri. Dari balik meja pelayanan, Satlantas Polres Nganjuk ingin membuktikan bahwa polisi bisa menjadi sosok yang dekat, bersahabat, dan benar-benar dirasakan kehadirannya oleh masyarakat.(Avs)

Bukan Sekadar Patroli: Bhabin Sonobekel Turun ke Kebun Demi Ketahanan Pangan


Di sela-sela tugas rutin menjaga keamanan, Brigpol Al Hanib, Bhabinkamtibmas Desa Sonobekel, memilih cara berbeda untuk mendekatkan diri dengan warga. Ia turun langsung ke lahan pekarangan milik warga yang tengah digarap untuk budidaya terong. Kunjungannya pada Rabu (1/4/2026) ini bukan sekadar inspeksi biasa, melainkan bentuk pendampingan nyata dalam program Pekarangan Pangan Bergizi yang dicanangkan pemerintah. Dengan sabuk pengaman masih melingkar di pinggang, ia menyusuri barisan tanaman, memastikan setiap batang terong tumbuh subur dan siap memberikan hasil maksimal bagi pemiliknya.

Kapolsek Warujayeng, Kompol Ahmad Junaedi, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen Polri yang tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga ikut serta dalam membangun kemandirian pangan masyarakat. Menurutnya, kehadiran Bhabinkamtibmas di kebun warga memiliki makna strategis. Selain memberikan rasa aman, pendampingan seperti ini mendorong warga untuk lebih produktif dalam memanfaatkan lahan pekarangan yang selama ini mungkin kurang optimal. Terong yang dipilih sebagai komoditas utama dinilai tepat karena selain mudah dibudidayakan, juga memiliki nilai jual yang menjanjikan.

Dalam kesempatan itu, Brigpol Al Hanib tak hanya memantau pertumbuhan tanaman, tetapi juga meluangkan waktu berdialog dengan warga. Ia mendengarkan keluhan, mencatat kendala yang dihadapi, lalu memberikan motivasi agar semangat bertani tidak surut. Baginya, tugas Bhabinkamtibmas bukan hanya tentang keamanan, tetapi juga tentang hadir di setiap aspek kehidupan warga. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, ia optimistis program P2B ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Sonobekel.(Avs)

Nol Kasus Curas, Curat, dan Narkoba: Bukti Nyata Ops Ketupat Semeru 2026 di Malang


Angka-angka berbicara sendiri. Selama Operasi Ketupat Semeru 2026 berlangsung, Polresta Malang Kota berhasil mencatatkan pencapaian yang jarang terjadi: tidak ada satu pun kasus pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan, maupun tindak pidana narkotika. Kabag Ops Polresta Malang Kota, Kompol Wiwin Rusli, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan hasil dari evaluasi perbandingan dengan operasi tahun sebelumnya. Pada periode yang sama di tahun 2025, ketiga jenis kejahatan atensi pimpinan tersebut masih tercatat, namun tahun ini seluruhnya berhasil ditekan hingga nol kasus atau turun 100 persen.

Kompol Wiwin memaparkan data komparatif lainnya yang tak kalah menggembirakan. Gangguan kamtibmas secara umum turun 26 persen, dari 29 kasus menjadi 20 kasus. Sementara kejahatan konvensional merosot 29 persen, dari 24 kasus menjadi 16 kasus. Angka-angka ini menjadi bukti bahwa strategi pengamanan yang diterapkan Polresta Malang Kota selama operasi kali ini berjalan efektif. Meskipun durasi waktu terjadinya kejahatan sedikit lebih panjang empat menit dibanding tahun lalu, hal itu tidak mengurangi makna dari pencapaian penurunan angka kriminal yang cukup drastis di tengah tingginya mobilitas warga.

Kesuksesan ini tidak lepas dari kerja keras tim gabungan yang ditempatkan di setiap pos pengamanan dan pos pelayanan. Sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam memastikan seluruh titik rawan di Kota Malang terpantau dengan baik. Di akhir pemaparannya, Kompol Wiwin menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menjaga Kota Malang. Baginya, keberhasilan menekan angka kriminal selama Operasi Ketupat Semeru 2026 adalah wujud nyata dari komitmen bersama untuk menciptakan mudik yang aman dan keluarga yang bahagia.(Avs)

Menembus Batas Geografis: Bagaimana Buku MBG Menjadi Simbol Kolaborasi Global Indonesia


Ada yang istimewa dari perjalanan buku Rasa Bhayangkara Nusantara. Ia tidak hanya berpindah dari satu rak ke rak lain, tetapi melintasi benua dan menjadi saksi bisu penguatan hubungan Indonesia dengan negara sahabat. Terbaru, buku yang lahir dari kolaborasi Wakapolri Dedi Prasetyo dan Dirgayuza Setiawan ini resmi hadir di Korea Selatan, memperluas lintasan diplomasi yang sebelumnya telah menyentuh Eropa, Amerika, Timur Tengah, dan Jepang. Setiap persinggahan bukan sekadar kunjungan, melainkan upaya sadar untuk menjadikan kebijakan prioritas nasional sebagai topik perbincangan global.

Korea Selatan dipilih bukan tanpa alasan. Negara ini memiliki pengalaman panjang dalam mengelola program makan bergizi yang telah menjadi bagian dari kultur bangsa, bahkan kerap ditampilkan dalam berbagai acara televisi. Dirgayuza menyampaikan bahwa melalui buku yang diserahkan kepada Duta Besar Cecep Herawan di Seoul, Indonesia ingin membuka ruang belajar bersama. "Kami ingin meningkatkan diplomasi kuliner antara kedua negara yang sama-sama menjalankan kebijakan MBG nasional," ujarnya. Buku ini, dengan demikian, menjadi medium untuk mentransfer pengetahuan sekaligus memperkuat kemitraan strategis, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia dan kebijakan publik.

Lebih dari sekadar urusan dapur, perjalanan buku ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki cara baru dalam bergaul dengan dunia. Wakapolri menyebutnya sebagai gastrodiplomasi yang menggabungkan kebijakan, budaya, dan nilai kemanusiaan. Dari London yang menjadi ajang penguatan diplomasi kultural, hingga Washington D.C. yang mendukung agenda kenegaraan, buku ini hadir sebagai instrumen komunikasi yang membawa pesan: Indonesia siap berkontribusi dan belajar dari dunia. Dan di Seoul, babak baru kolaborasi itu dimulai, dengan rasa sebagai bahasanya.(Avs)

Senin, 30 Maret 2026

70 Personel Detasemen Perintis Disiagakan di Bundaran HI hingga Kota Tua, Bukan untuk Intimidasi

Jakarta tidak pernah tidur, dan agar denyutnya tetap teratur, Baharkam Polri melalui Direktorat Samapta Korsabhara menurunkan 70 personel Detasemen Perintis ke tiga titik paling ikonik: Bundaran HI, Monas, dan Kota Tua pada Senin (30/03/2026). Mereka mulai bertugas sejak pukul 05.00 WIB di bawah komando AKBP Ricky Pranata Vivaldy, dengan metode pengamanan strong point dan patroli dialogis yang mengutamakan komunikasi dua arah. Kehadiran polisi di pagi buta ini bukan untuk mengintimidasi, melainkan untuk memberi rasa aman bagi para pekerja, pelajar, dan wisatawan yang memulai hari lebih awal. Hingga pukul 10.00 WIB, situasi di ketiga lokasi tersebut terpantau aman, lancar, dan tanpa insiden berarti.(Avs)

Yang membedakan operasi kali ini dengan pengamanan biasa adalah pendekatan patroli dialogis yang masif dilakukan sejak pukul 08.30 WIB. Personel tidak hanya berdiri di pos-pos tetap, tetapi juga berkeliling menyapa pedagang asongan, pengemudi ojek online, hingga rombongan wisatawan mancanegara. Melalui obrolan ringan, petugas dapat mendeteksi dini potensi gangguan keamanan sekaligus memberikan imbauan Kamtibmas tanpa kesan menggurui. Warga pun merespons positif karena merasa polisi hadir sebagai teman yang melindungi, bukan sebagai musuh yang harus dihindari. Suasana kondusif pun tercipta secara alami dari interaksi yang hangat tersebut.(Avs)

Tantangan di lapangan tentu tidak ringan, mengingat cuaca yang kadang panas menyengat atau tiba-tiba hujan deras, ditambah lonjakan volume kendaraan di jam sibuk pagi hari. Namun para personel Detasemen Perintis tetap sigap mengatur arus lalu lintas di titik-titik rawan kepadatan, sekaligus memastikan pejalan kaki bisa menyeberang dengan selamat. Mereka juga siaga memberikan pertolongan pertama jika ada warga yang membutuhkan, mulai dari menunjukkan arah jalan hingga membantu wisatawan yang kebingungan. Dedikasi ini membuat denyut aktivitas di pusat Jakarta tetap mengalir lancar tanpa hambatan yang berarti.(Avs)

Kegiatan pengamanan yang berlangsung selama lima jam ini menjadi bukti komitmen Baharkam Polri melalui semboyan "Siap Terlihat dan Bermanfaat" yang terus diusung Detasemen Perintis. Kehadiran polisi di tengah masyarakat tidak hanya sebagai penegak hukum yang menakut-nakuti pelaku kejahatan, tetapi juga sebagai pelindung dan pelayan yang memberikan rasa aman secara nyata. Ke depan, pola strong point dan patroli dialogis ini akan terus diterapkan di berbagai titik vital lainnya di Jakarta. Dengan kolaborasi yang erat antara polisi dan warga, ibu kota pun tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk beraktivitas setiap harinya.(Avs)

Dari Lahan Sempit ke Swasembada Cabai: Polisi Nganjuk Pilih Aksi Nyata


Bukan sekadar himbauan, AIPDA Suroto, Bhabinkamtibmas Sumberkepuh, benar-benar mencabuti rumput dan mengecek daun cabai milik warga pada Selasa (31/3/2026). Ini adalah pemantauan lapangan Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang dijalankan Polsek Warujayeng, Polres Nganjuk, sebagai wujud dukungan konkret terhadap ketahanan pangan dari akar rumput.

Kapolsek Warujayeng, Kompol Ahmad Junaedi, menegaskan bahwa peran polisi saat ini tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan pangan masyarakat terjaga melalui pendampingan agraris. Sepanjang kegiatan, aparat berdialog hangat dengan pemilik lahan untuk menggali kendala teknis seperti hama atau kurangnya pupuk, lalu memberi solusi praktis.

Dari pemantauan rutin ini, polisi berharap setiap pekarangan yang tadinya kosong bisa berubah menjadi lumbung cabai rumahan. Yang menarik, pendekatan ini berhasil memotivasi warga untuk lebih giat merawat tanaman karena merasa didampingi penuh.

AIPDA Suroto menyebutkan bahwa kehadiran polisi di sini adalah untuk memastikan warga mandiri pangan sekaligus mendapatkan nilai ekonomi dari panen cabai. Jika terus berlanjut, bukan tidak mungkin Desa Sumberkepuh menjadi contoh desa tangguh pangan berkat kolaborasi warga dan polisi. (Avs)

Bukan Sekadar Jaga Keamanan: Polres Probolinggo Turun Langsung Perbaiki Pipa Air Pascabencana Longsor


Ketika jembatan penghubung di Desa Lumbang ambrol diterjang longsor pada Sabtu dini hari, warga setempat tidak hanya kehilangan akses transportasi, tetapi juga sumber air bersih yang selama ini mengalir melalui saluran yang ikut rusak. Di tengah situasi darurat itu, Polres Probolinggo Polda Jawa Timur hadir dengan pendekatan berbeda. Mereka tidak hanya memasang garis polisi, tetapi ikut bergotong royong memperbaiki pipa saluran air yang putus dan memberikan bantuan pipa baru untuk percepatan pemulihan.

Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif menegaskan bahwa penanganan awal bencana dilakukan secara kolaboratif bersama pemerintah setempat dan instansi terkait. Menurutnya, perbaikan infrastruktur air bersih menjadi langkah krusial karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Tanpa menunggu lama, tim kepolisian langsung bergerak memastikan bahwa kebutuhan dasar warga bisa kembali terpenuhi pascabencana.

Bantuan yang diberikan Polres Probolinggo berupa pipa baru merupakan bentuk respons cepat terhadap kebutuhan mendesak masyarakat. AKBP Latif menyebut bahwa kehadiran kepolisian dalam situasi seperti ini adalah wujud kepedulian sosial yang tidak bisa dipisahkan dari tugas pokok menjaga keamanan. Dengan memberikan dukungan nyata, polisi ingin menunjukkan bahwa mereka hadir untuk melindungi dan melayani masyarakat dalam segala kondisi.

Seorang warga bernama Usman menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian yang ditunjukkan aparat kepolisian. Ia merasa sangat terbantu dengan kehadiran petugas yang turun langsung membantu di lokasi bencana. Menurutnya, solidaritas seperti ini sangat berarti bagi warga yang sedang berjuang menghadapi dampak longsor.

AKBP Latif juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan mengingat struktur tanah yang masih labil. Dengan bantuan pipa yang telah disalurkan, diharapkan saluran air bersih warga dapat segera berfungsi normal dan masyarakat bisa kembali menjalani aktivitas tanpa kendala akses air. (Avs)

Bukan Sekadar Ujian: Bagaimana Polri dan YPKBI Menyaring 400 Siswa Terbaik di Semarang


Di tengah hiruk-pikuk proses rekrutmen nasional, sebuah seleksi bergengsi berlangsung hening namun intens di Gedung Paramartha, Akpol Semarang. Wakapolri, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, hadir langsung untuk memastikan bahwa Seleksi Terpusat SMA Kemala Taruna Bhayangkara angkatan kedua berjalan dengan standar tertinggi. Ini bukan sekadar ujian masuk sekolah, melainkan gerbang menuju pembentukan kader bangsa dengan sistem yang mengedepankan objektivitas dan transparansi.

Sistem yang digunakan adalah Nusantara Standardized Test (NST), sebuah metode yang dirancang untuk mengukur potensi peserta secara presisi. Kehadiran para petinggi Polri, termasuk Komjen Pol. Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana dan Irjen Pol. Dr. Anwar, menunjukkan betapa seriusnya investasi sumber daya manusia ini. Mereka tidak hanya meninjau, tetapi mengecek langsung kesiapan panitia dan para peserta yang berasal dari 28 provinsi.

Sebanyak 399 siswa yang berhasil mencapai tahap ini adalah bukti dari proses penyaringan yang sangat ketat. Sebelumnya, lebih dari 3.000 peserta awal harus berkompetisi, kemudian disaring menjadi 2.644 untuk NST Tahap II, hingga akhirnya tersisa 400 nama terbaik. Kini, mereka menginap di Mess Werving Akpol, menjalani rangkaian panjang yang mencakup tes psikologi seperti MMPI dan PMK, hingga tes kesamaptaan jasmani.

Kolaborasi strategis antara Polri dan YPKBI terlihat jelas dalam perancangan seleksi yang berlangsung selama lima hari ini. Para peserta tidak hanya diuji kemampuan akademik melalui IELTS Prediction Test, Matematika, dan Sains, tetapi juga diuji ketahanan mental dan jiwa kepemimpinan mereka melalui seminar kebangsaan dan Leaderless Group Discussion (LGD).

Wakapolri menegaskan bahwa proses ini adalah bentuk komitmen jangka panjang. Dari 399 peserta yang berjuang, sekitar 180 akan terpilih. Mereka adalah generasi yang diproyeksikan tidak hanya unggul dalam nilai, tetapi memiliki integritas dan daya saing global, sejalan dengan cita-cita besar Presiden Prabowo Subianto dalam peningkatan kualitas SDM Indonesia. (Avs)

Mencetak Perwira dengan Kacamata Ilmu: Polri Guncang Fondasi Pendidikan di Akpol Lewat Laboratorium Sosial Sains


Sebuah lompatan besar dalam dunia pendidikan kepolisian dimulai dari Semarang. Polri tidak hanya membangun gedung baru di lingkungan Akademi Kepolisian, tetapi sedang meletakkan fondasi bagi kelahiran generasi perwira dengan cara berpikir yang baru. Peresmian pembangunan Laboratorium Sosial Sains Kepolisian oleh Wakapolri, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, menjadi sinyal kuat bahwa institusi ini siap meninggalkan gaya kerja lama yang cenderung reaktif dan beralih pada pendekatan berbasis riset dan ilmu pengetahuan.

Jantung dari inisiatif ini adalah transformasi sumber daya manusia. Laboratorium ini dirancang bukan sebagai ruang kelas biasa, melainkan pusat pembelajaran yang mengintegrasikan teori akademik dengan praktik lapangan. Di sinilah para taruna akan dilatih untuk tidak hanya mengandalkan intuisi emosional, tetapi juga mengasah kemampuan analisis terhadap dinamika masyarakat. "Polisi masa depan harus memiliki landasan filosofis dan pedagogis yang kuat," tegas Wakapolri, menekankan bahwa setiap tindakan di lapangan nantinya harus lahir dari pemikiran yang mendalam, bukan sekadar respons sesaat.

Dengan mengusung konsep "Pendidikan Taruna Berbasis Realitas Sosial", laboratorium ini memiliki fungsi krusial. Pertama, sebagai ruang belajar yang mengharuskan taruna memecahkan masalah berdasarkan fakta di masyarakat. Kedua, sebagai penyeimbang antara bobot akademik dan pengalaman lapangan yang selama ini sering kali timpang. Ketiga, dan yang paling penting, sebagai ruang kolaborasi yang menempatkan masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan. Seorang akademisi dari UNNES, Prof. Rodiyah Tangwun, menyebut ini sebagai pendekatan reflektif yang sangat dibutuhkan dalam penegakan hukum modern.

Dampak yang diharapkan dari metode pembelajaran ini sangat terukur. Polri menargetkan lahirnya perwira yang memiliki integritas moral yang kuat, bukan hanya sekadar patuh aturan. Selain itu, keterampilan praktis yang mereka miliki akan sangat relevan karena dilatih berdasarkan situasi nyata. Kemampuan untuk membaca dan memprediksi dinamika sosial menjadi keunggulan tambahan yang akan membuat kepemimpinan mereka di lapangan menjadi lebih adaptif dan solutif.

Peresmian ini juga menjadi bukti nyata kolaborasi strategis antara Polri dan dunia pendidikan tinggi. Hadirnya para pejabat utama Mabes Polri bersama perwakilan dari berbagai universitas nasional menunjukkan komitmen bersama dalam membangun ekosistem keilmuan kepolisian. Laboratorium ini bukan sekadar akhir dari sebuah proyek pembangunan, melainkan awal dari babak baru di mana Polri bertransformasi menjadi institusi yang modern, profesional, dan selalu selaras dengan tuntutan zaman melalui pendekatan ilmu pengetahuan.(Avs)

Polybag dan Semangat Ketahanan Pangan: Polisi Nganjuk Dampingi Warga Tanam Sayur dan Cabai


Di tengah keterbatasan lahan, masyarakat Desa Tanjunganom, Kecamatan Warujayeng, membuktikan bahwa produktivitas tidak selalu membutuhkan ruang yang luas. Dengan memanfaatkan polybag sebagai media tanam, warga setempat mulai membudidayakan sayur-sayuran dan cabai merah di pekarangan rumah mereka. Program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) ini mendapat pendampingan langsung dari Bhabinkamtibmas Desa Tanjunganom, AIPTU Saktian Suryani, yang hadir memberikan asistensi dan pemantauan pada Senin (30/3/2026). Kehadiran polisi di tengah warga kali ini bukan untuk urusan keamanan semata, tetapi untuk mendorong kemandirian pangan dari tingkat rumah tangga.

Kapolsek Warujayeng, Kompol Ahmad Junaedi, S.H., menegaskan bahwa pemanfaatan polybag adalah solusi cerdas bagi masyarakat yang memiliki lahan pekarangan terbatas. Menurutnya, metode ini tidak hanya memungkinkan warga untuk tetap bercocok tanam, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan nasional. “Melalui peran Bhabinkamtibmas, kami terus mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan dengan berbagai metode, salah satunya menggunakan polybag. Ini merupakan langkah sederhana namun berdampak besar dalam mendukung ketahanan pangan,” ujarnya. Dengan pendekatan yang aplikatif, warga diajak untuk melihat pekarangan sebagai aset produktif yang dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus gizi bagi keluarga.

Dalam pendampingan tersebut, AIPTU Saktian Suryani tidak hanya memantau, tetapi juga memberikan arahan teknis kepada warga. Mulai dari penataan media tanam yang tepat, pemilihan bibit unggul, hingga teknik perawatan tanaman agar hasil panen optimal. Ia menjelaskan bahwa sayur-sayuran dan cabai merah dipilih karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan kebutuhan konsumsi rumah tangga yang terus ada. “Kami memberikan asistensi dan pemantauan agar warga dapat mengelola tanaman sayur dan cabai merah dengan baik. Harapannya, hasilnya bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan bahkan dapat dijual untuk menambah penghasilan,” ungkap AIPTU Saktian. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, diharapkan warga tidak hanya sekadar menanam, tetapi juga mampu mengelola hasil panen secara mandiri.

Kehadiran Bhabinkamtibmas dalam kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa peran polisi tidak terbatas pada penegakan hukum. AIPTU Saktian menyebut bahwa dirinya merasa bangga bisa berkontribusi dalam program yang langsung menyentuh kesejahteraan warga. Menurutnya, ketika masyarakat merasa didampingi dan didukung, semangat untuk produktif akan tumbuh dengan sendirinya. Program P2B yang digalakkan ini juga sejalan dengan upaya menciptakan ketahanan pangan berbasis komunitas, di mana setiap keluarga dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan pasar.

Dengan sinergi antara kepolisian dan masyarakat, program pemanfaatan pekarangan dengan polybag ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Nganjuk. Kapolsek Warujayeng menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendorong Bhabinkamtibmas di wilayah lain untuk melakukan pendampingan serupa. Ketahanan pangan, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga membutuhkan gerakan kolektif dari tingkat paling bawah. Dengan langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, warga Tanjunganom kini membuktikan bahwa di balik polybag sederhana, tersimpan potensi besar untuk menciptakan kemandirian dan kesejahteraan. (Avs)

Minggu, 29 Maret 2026

Rantai Motor Putus di Tengah Jalan, Polisi Nganjuk Rela Antar Anak ke Sekolah


Pagi itu, Jalan Musi Nganjuk seperti biasa dipadati kendaraan yang melintas. Namun, di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga yang berangkat kerja dan mengantar anak sekolah, seorang pengendara motor tiba-tiba terhenti karena rantai kendaraannya putus. Situasi menjadi semakin mendesak karena sang pengendara sedang dalam perjalanan mengantar anaknya ke SDN Begadung 4 Nganjuk, dan waktu terus berjalan menuju jam masuk sekolah. Melihat kondisi tersebut, Bripka Badik, anggota Satlantas Polres Nganjuk yang sedang bertugas mengatur lalu lintas, tanpa ragu menghampiri dan menawarkan bantuan. Dengan sigap, ia menggendong tas anak tersebut dan mengantarnya ke sekolah menggunakan kendaraan dinasnya, memastikan sang anak tidak terlambat mengikuti pelajaran.

Tindakan spontan Bripka Badik ini bukan sekadar aksi kemanusiaan biasa, melainkan cerminan nyata dari filosofi pelayanan prima yang ditanamkan Polri kepada setiap anggotanya. Kasat Lantas Polres Nganjuk, AKP Ivan Danara Oktavian, S.Tr.K., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa kepekaan terhadap situasi di lapangan adalah nilai utama yang selalu ditekankan kepada seluruh personel. Menurutnya, tugas polisi tidak hanya berhenti pada pengaturan lalu lintas atau penegakan hukum, tetapi juga hadir sebagai solusi bagi kesulitan masyarakat. Apa yang dilakukan Bripka Badik, ujar AKP Ivan, adalah contoh sempurna bagaimana seorang polisi dapat membaca situasi dan mengambil tindakan cepat yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.

Bripka Badik sendiri mengaku bahwa keputusannya untuk mengantar anak tersebut lahir dari dorongan spontan melihat kondisi yang mendesak. Ia melihat kegelisahan di wajah sang orang tua yang bingung karena kendaraan mogok, sementara anaknya sudah hampir terlambat masuk sekolah. Tanpa berpikir panjang, ia pun menawarkan diri untuk mengantarkan sang anak. "Saya melihat anak tersebut hampir terlambat sekolah, sementara orang tuanya kesulitan karena kendaraannya rusak. Jadi saya inisiatif untuk mengantarnya agar tetap bisa mengikuti pelajaran tepat waktu," ungkapnya. Langkah sederhana ini ternyata memberikan kelegaan besar bagi keluarga tersebut, yang sebelumnya sempat panik karena waktu terus berjalan.

Aksi humanis ini juga menjadi bukti bahwa kehadiran polisi di titik-titik rawan kemacetan dan aktivitas pagi hari memiliki nilai lebih dari sekadar pengaturan lalu lintas. Masyarakat tidak hanya merasa aman karena lalu lintas terkendali, tetapi juga merasakan kehadiran polisi sebagai sosok yang peduli dan siap membantu dalam situasi darurat. Di era di mana interaksi antara polisi dan masyarakat sering kali hanya terjadi dalam konteks penindakan, tindakan seperti ini menjadi pengingat bahwa hubungan harmonis dapat dibangun melalui kepedulian sederhana yang tulus. Bripka Badik telah menunjukkan bahwa seragam polisi tidak hanya membawa kewenangan, tetapi juga membawa tanggung jawab moral untuk menolong.

Melalui aksi sederhana namun bermakna ini, Polres Nganjuk berharap dapat menginspirasi lebih banyak anggota kepolisian di berbagai daerah untuk terus peka terhadap kebutuhan masyarakat. AKP Ivan Danara Oktavian menekankan bahwa setiap personel memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan dampak positif, tidak harus melalui tindakan besar, tetapi cukup dengan kepedulian yang tulus saat dibutuhkan. Di penghujung cerita, yang paling membahagiakan adalah bahwa anak tersebut tiba di sekolah tepat waktu, dapat mengikuti pelajaran dari awal, dan pulang dengan senyum karena tahu bahwa ada polisi baik hati yang membantunya melewati pagi yang sempat terasa berat. (Avs)

12 Hari Operasi Pekat, 6 Kasus Narkoba dan Okerbaya Terungkap di Nganjuk


Dalam tempo 12 hari, Satresnarkoba Polres Nganjuk berhasil membongkar enam kasus peredaran narkotika dan obat keras berbahaya selama pelaksanaan Operasi Pekat Semeru 2026. Operasi yang berlangsung mulai 25 Februari hingga 8 Maret 2026 ini digelar sebagai langkah strategis kepolisian untuk menciptakan situasi aman dan tertib menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 H. Kasat Resnarkoba Polres Nganjuk, IPTU Sugiarto, S.H., mengungkapkan bahwa dari enam kasus tersebut, dua di antaranya merupakan target operasi (TO) dan empat lainnya merupakan temuan di luar target operasi (non TO). Keberhasilan ini menjadi bukti keseriusan aparat dalam menekan peredaran barang haram yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di wilayah Kabupaten Nganjuk.

Dari dua kasus yang menjadi target operasi, Satresnarkoba berhasil menyita barang bukti berupa sabu seberat 2,04 gram dari satu kasus, serta 2.037 butir pil golongan obat keras berbahaya dari kasus lainnya. Sementara itu, dari empat kasus non target operasi, petugas mengamankan 1.954 butir pil okerbaya dan 0,98 gram sabu. Total barang bukti yang disita dalam operasi ini mencapai 3,02 gram sabu dan 3.991 butir pil terlarang. Angka ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba dan obat keras masih menjadi tantangan serius di wilayah Nganjuk, terutama menjelang momen-momen besar seperti Idulfitri yang biasanya disertai dengan peningkatan mobilitas dan aktivitas masyarakat.

IPTU Sugiarto menjelaskan bahwa dari seluruh pengungkapan tersebut, pihaknya berhasil mengamankan tujuh orang tersangka. Rinciannya, dua tersangka berasal dari kasus target operasi dan lima tersangka dari kasus non target operasi. Penindakan ini, menurutnya, merupakan bagian dari komitmen Polres Nganjuk untuk terus memberantas peredaran narkotika secara berkelanjutan. Operasi Pekat Semeru 2026 sendiri dirancang tidak hanya untuk menindak, tetapi juga untuk memberikan efek jera yang kuat bagi para pelaku. Dengan adanya penindakan tegas ini, diharapkan masyarakat dapat merasakan langsung dampak positif berupa situasi kamtibmas yang lebih kondusif menjelang perayaan Idulfitri.

Kasat Resnarkoba menambahkan bahwa keberhasilan operasi ini tidak lepas dari kerja keras seluruh personel yang terus melakukan pemantauan dan penyelidikan intensif. Selain penindakan, upaya preventif juga terus digalakkan untuk mencegah munculnya pelaku-pelaku baru. IPTU Sugiarto menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti di sini. Ke depan, Satresnarkoba Polres Nganjuk akan terus mengintensifkan kegiatan pemberantasan narkoba dan okerbaya, baik melalui operasi rutin maupun operasi berskala besar seperti Pekat Semeru. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa lingkungan masyarakat tetap bersih dari ancaman narkotika dan obat-obatan berbahaya.

Dengan capaian yang diraih selama Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Nganjuk menunjukkan bahwa kesiapan dan keseriusan dalam menjaga keamanan wilayah tidak pernah surut. Masyarakat pun diharapkan dapat merayakan Idulfitri dengan tenang, tanpa khawatir akan peredaran narkoba yang merusak generasi. IPTU Sugiarto mengakhiri dengan pesan agar seluruh elemen masyarakat turut berperan aktif dalam memberikan informasi terkait aktivitas mencurigakan di lingkungan masing-masing. Sinergi antara aparat dan warga, menurutnya, adalah kunci utama untuk menciptakan Nganjuk yang bersih dari narkoba dan aman bagi semua. (Avs)

Dari Pangdam Jaya Bintang Tiga ke Kapolda Metro Komjen: Usulan Harmonisasi Struktural


Pelantikan Letjen TNI Deddy Suryadi sebagai Pangdam Jaya pada Kamis (26/3/2026) membawa angin segar bagi tubuh TNI, sekaligus membuka diskusi baru di kalangan pengamat kepolisian. Direktur Eksekutif Lemkapi, Edi Hasibuan, menyebut bahwa kenaikan pangkat Pangdam Jaya dari bintang dua menjadi bintang tiga adalah langkah yang tepat dan patut diapresiasi. Namun, menurutnya, momentum ini seharusnya juga dimanfaatkan untuk melakukan harmonisasi struktural di jajaran Polri. Ia mengusulkan agar Kapolda Metro Jaya yang saat ini berpangkat Inspektur Jenderal (bintang dua) dinaikkan menjadi Komisaris Jenderal (bintang tiga). Usulan ini, tegasnya, didasarkan pada kebutuhan fungsional dan kajian akademik yang mendalam.

Edi Hasibuan menjelaskan bahwa tugas dan tanggung jawab Kapolda Metro tidak kalah kompleks dibanding Pangdam Jaya. Keduanya sama-sama bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban di ibu kota negara yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan aktivitas masyarakat. Dalam berbagai operasi gabungan, koordinasi antara Pangdam dan Kapolda sangat intensif. Jika terjadi ketimpangan level pangkat, secara psikologis dapat mempengaruhi dinamika komunikasi dan efektivitas pengambilan keputusan. Oleh karena itu, menurut Edi, penyesuaian pangkat Kapolda menjadi Komjen adalah langkah antisipatif yang penting untuk menciptakan kesetaraan yang sehat.

Lebih lanjut, mantan anggota Kompolnas periode 2012–2016 ini menguraikan bahwa penyesuaian pangkat Kapolda akan membawa efek berjenjang pada struktur di bawahnya. Ia menyebut bahwa jika Kapolda naik menjadi Komjen, maka secara otomatis Wakapolda yang saat ini dijabat Irjen Pol perlu disesuaikan, dan para Kasatker di lingkungan Polda Metro yang selama ini dijabat Kombes seharusnya naik pangkat menjadi Brigjen Pol (bintang satu). Penyesuaian ini, menurut Edi, adalah konsekuensi logis dari upaya harmonisasi struktural yang utuh. Tanpa kesetaraan di level bawah, justru akan muncul ketimpangan baru yang dapat mengganggu efektivitas kerja di jajaran kepolisian.

Edi Hasibuan juga membandingkan dengan praktik di berbagai negara. Ia mencontohkan bahwa di Tokyo, Beijing, dan New York, kepala kepolisian metropolitan memiliki pangkat yang setara dengan bintang tiga. Menurutnya, Indonesia yang memiliki Jakarta sebagai ibu kota dengan dinamika yang sangat tinggi seharusnya tidak ketinggalan. Dengan menaikkan pangkat Kapolda Metro menjadi Komjen, Polri akan menunjukkan bahwa institusinya setara dengan TNI dalam hal struktur kepemimpinan di ibu kota. Hal ini, menurutnya, akan memperkuat sinergi dan kerja sama antarlembaga dalam menjaga stabilitas keamanan.

Di akhir pernyataannya, penulis buku Hukum Kepolisian dan Politik Hukum Kepolisian ini berharap agar Kapolri dapat mempertimbangkan usulan ini secara serius. Ia menegaskan bahwa dukungan terhadap kenaikan pangkat Pangdam Jaya tidak berarti mengabaikan kebutuhan kesetaraan di jajaran Polri. Dengan adanya kesetaraan pangkat antara Pangdam Jaya dan Kapolda Metro, diharapkan koordinasi lintas institusi dapat berjalan lebih harmonis, memperkuat stabilitas keamanan, dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Edi Hasibuan mengakhiri dengan optimisme bahwa langkah progresif ini akan segera diwujudkan demi masa depan keamanan ibu kota yang lebih baik. (Avs)

241 Miliar Disita, 359 Rekening Dibekukan: Bagaimana Bareskrim Menguras Dana Judi Online


Angka 241 miliar rupiah yang berhasil disita Bareskrim Polri dari kasus judi online selama periode 2021 hingga 2026 bukan sekadar catatan statistik. Di balik angka itu terdapat kerja panjang yang melibatkan patroli siber intensif, penyelidikan bertahun-tahun, dan yang terbaru, pendekatan non-konvensional berbasis keuangan yang memanfaatkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2013. Pada 5 Maret 2026, Siber Bareskrim menyerahkan 58 miliar rupiah hasil sitaan kepada Kejaksaan untuk dieksekusi, sebuah langkah yang dinilai krusial untuk menjamin kepastian hukum dan meningkatkan efektivitas putusan pengadilan. Namun, publik dan sejumlah pengamat menilai bahwa capaian ini masih menyisakan pekerjaan rumah besar, terutama dalam hal penguatan pengawasan terhadap payment gateway dan transparansi pengelolaan aset sitaan.

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri tidak bekerja sendiri. Dalam pengungkapan jaringan yang melibatkan 21 website terafiliasi, mereka mendapat dukungan dari PPATK yang menyediakan Laporan Hasil Analisis (LHA) untuk menelusuri rekening-rekening yang digunakan. Hasilnya, 359 rekening berhasil diidentifikasi dan disita dengan total nilai 142 miliar rupiah. Modus operandi yang terungkap menunjukkan sistem yang sangat terorganisir, mulai dari operasional platform hingga pengelolaan aliran dana melalui berbagai rekening, perusahaan, dan fasilitas pembayaran digital. Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menegaskan bahwa pendekatan follow the money adalah kunci untuk mengungkap kejahatan keuangan semacam ini. Tanpa penelusuran aliran dana, pelaku akan terus bisa menikmati hasil kejahatan meskipun telah dijatuhi hukuman.

Salah satu sorotan utama dari pengungkapan ini adalah peran payment gateway dalam memfasilitasi transaksi judi online. Pengamat kebijakan publik Achmad Nur Hidayat menilai bahwa pengawasan terhadap payment gateway dan layanan keuangan digital harus dilakukan secara konsisten dan transparan. Banyak kasus menunjukkan bahwa penyedia jasa pembayaran digital belum sepenuhnya menerapkan prinsip know your customer secara ketat, sehingga memudahkan pelaku membuka rekening dengan identitas palsu atau nominee. Jika celah ini tidak ditutup, maka jaringan judi online akan terus bermunculan dengan modus yang sama. Oleh karena itu, sinergi antara aparat penegak hukum, regulator, dan penyedia jasa keuangan menjadi sangat krusial.

Ahli TPPU Yenti Garnasih menambahkan bahwa aliran dana hasil kejahatan harus diputus secara menyeluruh. Tidak cukup hanya menangkap operator situs dan menyita sejumlah uang, tetapi seluruh rantai keuangan yang menopang operasional judi online harus dihancurkan. Pendekatan non-konvensional yang saat ini dijalankan Bareskrim dinilai tepat, karena langsung menyasar akar permasalahan: aset. Dengan merampas aset-aset yang terkait dengan judi online, negara tidak hanya memulihkan kerugian, tetapi juga memberikan efek jera yang lebih efektif. Pengungkapan terbaru oleh Dit Siber Polda Sumatera Utara pada 16 Maret 2026 yang mengamankan 19 tersangka menunjukkan bahwa pendekatan ini mulai diterapkan secara luas di berbagai wilayah.

Dari sisi tata kelola, publik menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset sitaan. Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan menyatakan bahwa penyitaan aset hasil judi online harus memberikan kontribusi nyata bagi negara dan dikelola secara terbuka. Pengamat Ekonomi CELIOS, Nailul Huda, menekankan bahwa kerugian negara akibat judi online sangat besar, sehingga penanganannya tidak boleh berhenti pada pengungkapan semata. Eksekusi putusan pengadilan menjadi tahap yang tidak kalah penting, karena menentukan apakah aset yang disita benar-benar dapat dirampas untuk negara. Dengan sinergi yang solid antara Bareskrim, PPATK, Kejaksaan, dan regulator keuangan, diharapkan penanganan judi online ke depan tidak hanya lebih masif, tetapi juga lebih transparan dan akuntabel, sehingga kepercayaan publik terhadap sistem peradilan dan penegakan hukum semakin kuat. (Avs)

Kesetaraan di Ibu Kota: Pakar Hukum Dorong Pangkat Kapolda Metro Dinaikkan Jadi Komjen


Keputusan Panglima TNI yang menaikkan pangkat Pangdam Jaya dari Mayor Jenderal menjadi Letnan Jenderal memicu perbincangan baru di ranah hukum ketatanegaraan. Seorang pakar dari Universitas Esa Unggul Jakarta, Prof. Dr. Juanda, S.H., M.H., menilai bahwa langkah serupa seharusnya juga berlaku bagi Kapolda Metro Jaya. Menurutnya, agar terjadi keseimbangan dan kesetaraan antar lembaga negara di wilayah hukum yang sama, pangkat Kapolda yang saat ini masih Inspektur Jenderal (bintang dua) perlu dinaikkan satu tingkat menjadi Komisaris Jenderal (bintang tiga). Penyesuaian ini, tegasnya, bukan sekadar soal simbol, melainkan kebutuhan harmonisasi struktural di ibu kota yang memiliki kompleksitas tugas dan beban kerja yang sangat tinggi.

Dalam perspektif hukum ketatanegaraan, Prof Juanda menjelaskan bahwa kesetaraan pangkat antar pejabat di wilayah yang sama penting untuk menjaga kelancaran koordinasi dan efektivitas kerja. Ia mencontohkan bahwa dengan naiknya pangkat Pangdam Jaya, maka secara otomatis terdapat ketimpangan level antara pejabat TNI dan Polri yang bertugas di DKI Jakarta. Jika tidak disesuaikan, lanjutnya, hal ini berpotensi menimbulkan dampak psikologis struktural yang dapat mengganggu hubungan kerja yang selama ini telah terbangun dengan baik. Harmonisasi dalam struktur jabatan, menurutnya, harus menjadi perhatian serius agar tidak ada pihak yang merasa lebih rendah atau lebih tinggi secara hierarkis ketika berhadapan dalam koordinasi lintas institusi.

Lebih lanjut, pakar hukum tata negara ini menguraikan bahwa penyesuaian pangkat tidak hanya berhenti pada level Kapolda. Jika Kapolda naik menjadi Komjen, maka secara berjenjang jabatan di bawahnya juga perlu disesuaikan. Wakapolda yang saat ini dijabat Irjen Pol (bintang dua) akan menyesuaikan, demikian pula para direktur di tingkat Polda yang seharusnya naik menjadi Brigjen Pol (bintang satu). Bahkan hingga level Polres di lingkungan Polda Metro Jaya, menurut Prof Juanda, perlu dipikirkan penyesuaiannya, misalnya dari Kombes menjadi Brigjen Pol. Ia menyebut ini sebagai bagian dari sinkronisasi hukum jabatan yang berbasis pada kesetaraan beban kerja dan tanggung jawab di wilayah yang sama.

Prof Juanda menegaskan bahwa pemikirannya ini didasarkan pada prinsip keseimbangan antar institusi negara di wilayah DKI Jakarta yang memiliki ruang lingkup hukum sama dan tingkat substansi masalah yang tidak jauh berbeda. Ia mengingatkan bahwa ketidaksesuaian pangkat dapat berpotensi mengganggu tradisi koordinasi yang selama ini berjalan dengan baik. Bahkan, dalam jangka panjang, hal ini bisa menghambat terbangunnya komunikasi yang efektif antar pejabat di tingkat pusat. Oleh karena itu, secara hukum ketatanegaraan, penyesuaian pangkat Kapolda Metro menjadi Komjen merupakan langkah yang seharusnya diambil untuk mencegah terjadinya hambatan koordinasi dan gangguan psikologis struktural.

Semua pemikiran ini, menurut Prof Juanda, pada akhirnya bergantung pada kebijakan dan keputusan Kapolri selaku pemimpin tertinggi Polri. Ia menyebut bahwa langkah penyesuaian pangkat bukanlah hal yang mustahil, mengingat telah ada preseden dari institusi TNI yang melakukan hal serupa. Dengan adanya kesetaraan pangkat di level pimpinan tertinggi di wilayah DKI Jakarta, diharapkan koordinasi antar lembaga dapat berjalan lebih harmonis dan efektif. Prof Juanda mengakhiri pemikirannya dengan menekankan bahwa harmoni dalam struktur kepemimpinan di ibu kota negara merupakan kebutuhan mendesak yang sebaiknya tidak ditunda demi kelancaran roda pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. (Avs)

Hujan Deras Robohkan Jembatan, Polres Probolinggo Tutup Akses Madakaripura


Tidak ada yang menduga bahwa hujan deras yang mengguyur wilayah Probolinggo sejak Jumat malam akan meninggalkan dampak sebesar ini. Pada Sabtu (28/3/2026) dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, sebuah jembatan di Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, ambruk dan membuat akses menuju Air Terjun Madakaripura terputus total. Badan jembatan yang hancur parah tersebut kini tidak bisa dilalui kendaraan maupun pejalan kaki, memaksa Polres Probolinggo untuk segera memasang police line dan rambu peringatan di sekitar lokasi. Langkah ini diambil sebagai bentuk respons cepat untuk memastikan tidak ada masyarakat yang nekat melintas di area yang sudah tidak aman.

Kapolres Probolinggo, AKBP M. Wahyudin Latif, menjelaskan bahwa penutupan akses ini bersifat sementara dan dilakukan demi keselamatan masyarakat. Ia mengimbau warga agar tidak memaksakan diri melintasi jembatan yang ambruk karena kondisi strukturnya sudah sangat rapuh. Polisi juga bersinergi dengan instansi terkait untuk melakukan pengawasan ketat di lokasi, memastikan bahwa tidak ada aktivitas yang membahayakan jiwa. Hingga Minggu (29/3/26), situasi di sekitar area kejadian terpantau aman, meskipun potensi bahaya masih mengintai jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.

Peristiwa ini menjadi peringatan keras tentang ancaman bencana hidrometeorologi yang kerap melanda wilayah dengan topografi perbukitan seperti Kecamatan Lumbang. AKBP Latif mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi warga yang bermukim di daerah rawan longsor dan banjir. Ia juga menekankan pentingnya komunikasi cepat dengan pihak berwenang jika terjadi kondisi darurat, agar penanganan dapat dilakukan sebelum dampak meluas. Pemasangan police line bukan sekadar simbol, melainkan pembatas nyata yang menyatakan bahwa area tersebut sedang dalam kondisi darurat dan tidak boleh diakses.

Penutupan akses menuju Air Terjun Madakaripura tentu berdampak luas, baik bagi warga lokal yang membutuhkan jalur tersebut untuk aktivitas sehari-hari, maupun bagi sektor pariwisata yang selama ini menjadi penggerak ekonomi masyarakat sekitar. Namun, dalam kondisi darurat seperti ini, keselamatan jiwa harus menjadi pertimbangan utama. Polres Probolinggo bersama pemerintah daerah diharapkan segera melakukan koordinasi untuk mengevaluasi kerusakan dan merencanakan langkah perbaikan agar akses dapat kembali dibuka dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Kejadian ambruknya jembatan ini mengingatkan bahwa infrastruktur di daerah rawan bencana membutuhkan perhatian ekstra, terutama saat musim hujan dengan curah tinggi. AKBP M. Wahyudin Latif menegaskan bahwa Polres Probolinggo akan terus memantau perkembangan situasi dan melakukan pengamanan selama proses penanganan berlangsung. Imbauan waspada terus disampaikan kepada masyarakat, karena cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Dengan sinergi yang solid antara aparat, instansi terkait, dan kesadaran warga, diharapkan tidak ada korban jiwa maupun kerugian lebih lanjut akibat bencana ini. (Avs)

Bukan Sekadar Tes: Di Balik Seleksi 400 Siswa Terbaik di Akpol Semarang


Di balik gerbang megah Akademi Kepolisian Semarang, sebuah babak penting sedang berlangsung. Sebanyak 400 siswa pilihan dari seluruh Indonesia mulai berdatangan untuk mengikuti Seleksi Terpusat SMA Kemala Taruna Bhayangkara, yang akan resmi dimulai pada 31 Maret 2026. Mereka bukan sekadar peserta ujian, melainkan hasil dari proses penyaringan panjang yang menyisakan hanya segelintir dari ribuan pendaftar. Kehadiran mereka di lingkungan Akpol bukan hanya tentang memperebutkan kursi pendidikan, tetapi juga menjadi awal dari pembentukan karakter dan kepemimpinan yang akan ditempa melalui sistem pendidikan berasrama. Inilah titik krusial di mana kemampuan akademik mulai diuji bersama ketahanan fisik, kematangan mental, dan integritas pribadi.

Perjalanan menuju tahap ini tidaklah mudah. Dari 3.000 peserta yang berhasil melaju ke Nusantara Standard Test Tahap II, hanya 2.644 yang benar-benar hadir, menunjukkan komitmen kuat dari para peserta yang tersebar di berbagai provinsi. Mereka diuji dengan instrumen kompetensi Matematika dan IPA berbahasa Inggris, ditambah kemampuan Bahasa Inggris, menggunakan pendekatan Item Response Theory yang menjamin keakuratan hasil. Tingkat persaingan pun sangat sengit, terbukti dari skor 400 peserta teratas yang berada di kisaran 630 hingga 770, jauh di atas rata-rata nasional 580. Bahkan, hanya 15,1 persen dari keseluruhan peserta yang masuk dalam kategori baik hingga luar biasa berdasarkan skala prediktif International Baccalaureate. Inilah bukti bahwa seleksi ini mengedepankan kualitas, bukan sekadar kuantitas.

Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, selaku Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divhumas Polri, menyampaikan bahwa seleksi ini adalah manifestasi dari komitmen Polri terhadap prinsip meritokrasi. Menurutnya, proses yang dilaksanakan secara terpusat di Akpol Semarang memastikan setiap peserta dinilai dengan standar yang sama, tanpa celah untuk ketidakadilan. Data menunjukkan keragaman latar belakang peserta, dengan 251 laki-laki dan 149 perempuan yang berasal dari 28 provinsi. Yang menarik, asal sekolah mereka pun bervariasi, 44 persen dari SMP negeri, 42,5 persen dari swasta kurikulum nasional, dan 13,5 persen dari swasta kurikulum internasional. Ini menegaskan bahwa keberhasilan lolos ke tahap ini ditentukan oleh kesiapan individu, bukan oleh prestise institusi asal.

Memasuki tahap seleksi terpusat, para peserta akan menghadapi serangkaian ujian yang jauh lebih kompleks. Rangkaiannya meliputi tes akademik lanjutan, IELTS prediction test, pemeriksaan kesehatan, tes psikologi dan penelusuran mental kepribadian, uji kesamaptaan jasmani, Leaderless Group Discussion, hingga wawancara yang melibatkan orang tua dan siswa. Setiap elemen tes dirancang untuk menggali potensi secara holistik, memastikan bahwa mereka yang terpilih benar-benar memiliki keseimbangan antara kecerdasan, ketahanan fisik, dan kedalaman karakter. Dari 400 peserta terbaik inilah, nantinya akan dijaring sekitar 180 siswa untuk mengisi angkatan kedua SMA Kemala Taruna Bhayangkara, sebuah lembaga yang diharapkan menjadi pencetak generasi unggul.

Melalui seleksi ini, Polri tidak hanya membuka pintu bagi calon siswa berprestasi, tetapi juga menunjukkan komitmennya dalam transformasi sumber daya manusia secara presisi. Seluruh proses diselenggarakan secara transparan dan akuntabel, memastikan bahwa informasi dapat diakses masyarakat dengan cepat. Lebih dari sekadar penerimaan murid baru, SPMB SMA KTB tahun ini menjadi momentum strategis untuk menemukan talenta muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki disiplin, jiwa kepemimpinan, dan kesiapan untuk bersaing di tingkat global. Ke-180 siswa yang nantinya terpilih diharapkan dapat menjadi kebanggaan bangsa, membawa semangat transformasi Polri ke masa depan yang lebih cerah. (Avs)

Sabtu, 28 Maret 2026

Libur Lebaran Masih Ramai, Kapolda Jatim Pastikan KRYD Berjalan untuk Amankan Destinasi Wisata


Meskipun Operasi Ketupat Semeru 2026 telah resmi ditutup, suasana libur Lebaran di Jawa Timur masih terasa hangat dengan tingginya kunjungan wisatawan. Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto meninjau langsung sejumlah destinasi unggulan di Kota Batu pada Sabtu (28/3/2026) untuk memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat tetap terjaga. Dalam kunjungannya, ia menegaskan bahwa kegiatan rutin yang ditingkatkan atau KRYD menjadi instrumen penting dalam melanjutkan pengamanan pasca operasi terpusat.

Berdasarkan data Polda Jatim, sektor pariwisata mencatat peningkatan kunjungan sebesar 31 persen, sementara arus mudik dan balik naik 21 persen dibanding tahun sebelumnya. Kapolda menyebut bahwa angka-angka ini menunjukkan aktivitas masyarakat yang masih sangat tinggi, sehingga diperlukan kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh jajaran. Ia berharap kondisi ini dapat terus dijaga dengan baik agar masyarakat tetap merasa aman dan nyaman dalam beraktivitas.

Peninjauan yang dilakukan bersama pejabat utama Polda Jatim, Kapolres Batu, dan instansi terkait difokuskan pada Jatim Park 2, Museum Angkut, dan Jatim Park 3. Ketiga lokasi ini menjadi titik konsentrasi utama wisatawan selama masa libur Lebaran, sehingga pengamanan diarahkan pada pengaturan arus lalu lintas, pengawasan kawasan, serta koordinasi intensif dengan pengelola. Kapolda juga memastikan bahwa personel di lapangan siap memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat.

Irjen Nanang menegaskan bahwa seluruh personel tetap disiagakan untuk memberikan pelayanan dan pengamanan secara maksimal. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan pengelola wisata untuk terus menjaga sinergi dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif. Dengan kolaborasi yang kuat, ia optimistis bahwa sisa masa libur Lebaran tahun ini dapat berjalan lancar, aman, dan memberikan pengalaman berwisata yang menyenangkan bagi seluruh masyarakat Jawa Timur.(Avs)

Dari Bakauheni, Kapolri Tegaskan Komitmen Penuh Kawal Keselamatan Pemudik hingga Titik Akhir


Pelabuhan Bakauheni, Lampung, menjadi saksi komitmen tinggi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam mengawal keselamatan arus balik Lebaran 1447 Hijriah. Pada Sabtu (28/3/2026), ia meninjau langsung berbagai titik krusial, mulai dari Pos Terpadu hingga Pos Pengamanan, untuk memastikan seluruh layanan berjalan maksimal. Dalam kunjungannya, Sigit menegaskan bahwa keselamatan pemudik adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Ia memberikan jaminan bahwa setiap masyarakat yang masih dalam perjalanan akan diantar hingga tujuan dengan aman.

Puncak gelombang kedua arus balik yang diprediksi sejak Jumat malam hingga Sabtu siang terpantau berjalan lancar di seluruh jalur transportasi. Sigit yang didampingi Menteri Perhubungan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap skema rekayasa lalu lintas yang diterapkan. Ia juga menyempatkan diri menyapa para pemudik dan membagikan bingkisan sebagai bentuk kepedulian. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendekatan humanis tetap menjadi bagian penting dari pengamanan arus mudik tahun ini.

Data dari Jasa Marga menunjukkan volume kendaraan yang keluar dari Jakarta tercatat 2.946.891 unit, meningkat 20,49 persen secara tahunan. Sementara itu, kendaraan yang telah kembali masuk Jakarta sebanyak 2.561.629 unit, sehingga masih tersisa 385.262 unit atau 13,07 persen yang belum kembali. Dengan angka ini, Sigit menyatakan bahwa puncak arus balik sudah terlewati, namun proses pengawalan tetap dilanjutkan hingga semua pemudik kembali ke rumah masing-masing.

Sigit memberikan apresiasi atas kinerja optimal di Pelabuhan Bakauheni yang mampu menjaga situasi tetap hijau berkat skema delaying system dan buffer zone. Namun, ia mengingatkan bahwa masih ada tantangan di wilayah Ketapang yang mencatatkan 51 persen pemudik belum kembali. Ini menjadi perhatian bersama yang harus direspons dengan kesiapsiagaan penuh. Dengan kerja sama yang solid, Sigit optimistis seluruh rangkaian arus balik tahun ini akan berakhir dengan catatan keselamatan yang membanggakan.(Avs)

Angka Fatalitas Turun Drastis, Ini Bukti Kerja Keras Kepolisian di Arus Mudik 2026


Laporan akhir dari posko terpadu pengamanan Lebaran 2026 membawa kabar positif bagi dunia transportasi nasional. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam kunjungan kerjanya di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, mengumumkan bahwa angka kecelakaan lalu lintas selama periode arus mudik dan balik tahun ini berhasil ditekan hingga 7,8 persen. Pencapaian ini menjadi sorotan utama karena terjadi di saat jumlah pemudik melonjak tajam sebesar 20,49 persen, setara dengan peningkatan mobilitas 2,9 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Fokus utama perbaikan tahun ini terlihat pada penurunan kasus fatalitas. Dibandingkan tahun 2025, terdapat pengurangan sebanyak 112 insiden kecelakaan yang berujung pada hilangnya nyawa, dengan total korban jiwa yang tercatat kini berada di angka 265. Dalam sambutannya, Sigit menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada masyarakat yang dinilai semakin disiplin serta seluruh personel keamanan yang siaga 24 jam. Menurutnya, sinergi ini adalah fondasi utama untuk menekan angka kecelakaan di momen-momen krusial seperti Lebaran.

Di sela-sela pemantauan arus balik, Kapolri menyampaikan imbauan taktis bagi para pengendara yang masih berada di jalur perjalanan. Ia menyoroti pentingnya manajemen kelelahan, mengingat perjalanan jauh membutuhkan konsentrasi penuh. Fasilitas rest area dan buffer zone yang telah tersedia sepanjang jalur mudik diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dengan beristirahat sejenak, pengendara dapat memulihkan kondisi tubuh sebelum melanjutkan perjalanan, sehingga risiko kecelakaan akibat human error dapat diminimalisir.

Berdasarkan data terakhir yang dihimpun hingga pagi hari, gelombang arus balik terpantau sudah mulai landai. Dari total pergerakan kendaraan, sebanyak 2,5 juta unit sudah kembali masuk ke wilayah Jakarta, menyisakan sekitar 385 ribu kendaraan atau 13,07 persen yang masih dalam perjalanan. Kapolri menegaskan bahwa puncak arus balik telah berhasil dilewati dengan kondisi yang terkendali. Ia berharap sisa perjalanan ini dapat berlangsung lancar, mengantarkan seluruh pemudik kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan selamat dan penuh kebahagiaan.(Avs)

Jumat, 27 Maret 2026

Jangan Terburu ke Dermaga: Kapolda Jatim Ajak Pemudik Manfaatkan Zona Penyangga di Ketapang


Bagi pemudik yang hendak menyeberang ke Pulau Bali, pesan Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, cukup sederhana namun krusial: jangan terburu-buru masuk ke area dermaga jika antrean masih panjang. Pada Jumat, 27 Maret 2026, saat berada di Rest Area Utama Raya Situbondo, ia mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan kantong parkir yang telah disiapkan sebagai zona penyangga bagi kendaraan yang menunggu giliran naik kapal. Langkah ini bertujuan agar antrean yang terjadi tidak meluber hingga ke jalan raya dan mengganggu arus lalu lintas utama yang masih padat dengan kendaraan lain.

Kapolda menjelaskan bahwa buffer zone bukan sekadar tempat parkir biasa, melainkan bagian dari strategi rekayasa lalu lintas yang dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pemudik yang akan menyeberang dengan kelancaran arus kendaraan yang hanya melintas. Dengan adanya kantong parkir ini, petugas dapat mengatur ritme kendaraan yang masuk ke pelabuhan secara bertahap, sehingga proses penyeberangan tetap terkendali tanpa menciptakan kepadatan berlebih. Kapolda menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur pendukung seperti ini menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan pengelolaan arus balik tahun ini.

Selain pengaturan antrean, Kapolda Jatim juga memastikan bahwa ketersediaan armada penyeberangan tidak menjadi kendala. Koordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry terus dilakukan untuk memastikan jumlah kapal yang beroperasi mencukupi dan seluruh aspek keamanan telah terpenuhi. Kapolda menyebut bahwa pengecekan menyeluruh terhadap armada telah dilakukan agar masyarakat tidak hanya mendapatkan layanan yang lancar, tetapi juga aman selama perjalanan menyeberang. Dengan ketersediaan kapal yang memadai, waktu tunggu di buffer zone dapat diminimalkan.

Dalam kesempatan yang sama, Kapolda juga mengingatkan pemudik untuk memperhatikan kondisi cuaca yang dalam beberapa hari terakhir masih menunjukkan intensitas hujan yang cukup tinggi. Ia mengimbau pengemudi untuk lebih berhati-hati, menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan, dan tidak memaksakan diri jika merasa lelah. Pos pelayanan dan rest area yang telah disiapkan di sepanjang jalur dapat menjadi tempat istirahat yang aman dan nyaman. Dengan disiplin dan kerja sama dari seluruh pemudik, Kapolda optimistis arus balik menuju Bali akan berlangsung lancar hingga akhir. (Avs)

Angka Naik, tetapi Kondisi Tetap Aman: Ini Rahasia Kelancaran Arus Balik di Jatim


Ketika angka volume kendaraan melonjak 18 persen, ekspektasi publik biasanya langsung tertuju pada kemacetan. Namun di Jawa Timur, pemandangan yang terjadi justru berbeda. Berdasarkan hasil pemantauan udara yang dilakukan Kapolda Jatim, Irjen Pol Nanang Avianto, pada Jumat, 27 Maret 2026, kondisi arus balik Lebaran di wilayahnya tetap terpantau aman, lancar, dan terkendali. Pemantauan yang mencakup titik-titik strategis seperti Tol Ngawi di perbatasan Jawa Tengah, jalur Pantura Tuban, jalur Wonogiri–Pacitan, hingga Situbondo dan Ketapang, menunjukkan bahwa lonjakan volume tidak serta-merta menciptakan kekacauan di lapangan.

Salah satu faktor yang membuat lonjakan 18 persen ini tidak berdampak signifikan terhadap kemacetan adalah keberadaan infrastruktur pendukung yang dioptimalkan fungsinya. Kapolda Jatim secara khusus menyoroti peran pintu Tol Situbondo Barat yang mulai difungsionalkan. Di wilayah Tapal Kuda yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik rawan kepadatan, keberadaan akses tol ini terbukti mampu mendistribusikan arus kendaraan dengan lebih baik. Kapolda menilai bahwa inovasi dalam pengaturan lalu lintas, termasuk pemanfaatan jalur fungsional, menjadi faktor krusial dalam menjaga kelancaran meskipun terjadi peningkatan volume.

Selain faktor infrastruktur, Kapolda juga mencatat adanya perubahan perilaku masyarakat yang turut berkontribusi terhadap kelancaran. Ia menjelaskan bahwa peningkatan volume kendaraan tidak hanya berasal dari pemudik yang kembali, tetapi juga dari masyarakat yang memanfaatkan libur Lebaran untuk berwisata. Pola pergerakan yang tersebar ini membuat beban lalu lintas tidak terpusat pada satu ruas atau satu waktu tertentu. Dengan kata lain, lonjakan volume yang terjadi lebih merupakan hasil dari aktivitas yang beragam, bukan semata-mata konsentrasi arus balik yang padat.

Memastikan semua tetap berjalan lancar, Kapolda Jatim menegaskan bahwa seluruh personel Operasi Ketupat Semeru 2026 masih disiagakan penuh. Penguatan dilakukan di jalur tol, jalur wisata, dan titik penyeberangan yang menjadi simpul-simpul pergerakan utama. Kapolda juga mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan diri kembali secara bersamaan, mengingat perkiraan arus balik baru mencapai sekitar 30 persen. Dengan masih tersedianya waktu hingga akhir pekan, ia berharap masyarakat dapat mengatur jadwal perjalanan dengan bijak, sehingga sisa arus balik dapat berlangsung tanpa hambatan berarti. (Avs)

Ketika Masjid Al-Ikhlas Menjadi Saksi Kepedulian Polres Nganjuk


Masjid Al-Ikhlas di lingkungan Polres Nganjuk pada Jumat pagi itu bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga panggung kebersamaan yang menyentuh. Di sana, para pejabat utama, anggota, dan ASN berkumpul tidak dalam formasi formal seperti biasanya, melainkan duduk berdampingan dengan anak-anak yatim piatu yang datang dengan wajah penuh harap. Suasana khusyuk tercipta saat mereka mengikuti pembinaan rohani dan mental, sebuah kegiatan rutin yang kali ini dikemas dengan makna yang lebih dalam melalui pemberian santunan.

Bagi Polres Nganjuk, kegiatan yang berlangsung pada 27 Maret 2026 ini adalah upaya strategis untuk membangun fondasi mental spiritual personel. Dalam sambutannya, KOMPOL Burhanudin, S.Sos., menekankan bahwa menjadi seorang anggota Polri berarti memiliki tanggung jawab ganda, yakni melayani masyarakat sekaligus menjadi teladan dalam kepedulian sosial. Ia menyebutkan bahwa santunan kepada anak yatim piatu bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang dalam membentuk karakter personel yang humanis dan berhati mulia.

Ceramah yang disampaikan oleh KH. Mohammad Kholil turut mewarnai kegiatan ini dengan pesan-pesan religius yang mendalam. Ulama Kamtibmas asal Polsek Loceret itu mengingatkan bahwa menjaga tali silaturahmi dan memuliakan anak yatim adalah dua amalan yang tidak pernah kehilangan relevansinya, bahkan dalam konteks tugas kepolisian modern. Ia mengajak semua yang hadir untuk melihat bahwa keberkahan dalam pekerjaan tidak hanya datang dari hasil yang dicapai, tetapi juga dari ketulusan hati saat membantu sesama yang lemah.

Satu per satu, anak-anak yatim piatu menerima santunan langsung dari tangan personel. Tidak ada jarak yang tercipta antara pemberi dan penerima, karena kebersamaan itulah yang justru menjadi inti dari kegiatan ini. Polres Nganjuk melalui Binrohtal kali ini ingin membuktikan bahwa institusi kepolisian dapat hadir dengan cara yang hangat dan membumi. Harapannya, nilai-nilai kepedulian yang ditanamkan hari ini akan terus tumbuh dalam diri setiap personel dan tercermin dalam setiap tindakan pengabdian mereka kepada masyarakat. (Avs)

Usai Operasi Ketupat, Kapolres Bojonegoro Pastikan Wisata Tetap Aman Lewat KRYD


Meskipun Operasi Ketupat Semeru 2026 telah resmi berakhir, kesigapan Polres Bojonegoro dalam menjaga keamanan masyarakat tidak ikut berakhir. AKBP Afrian Satya Permadi, Kapolres Bojonegoro, langsung memimpin kegiatan rutin yang ditingkatkan (KRYD) pascaoperasi dengan menyambangi kawasan wisata Waduk Sonorejo, didampingi Kapolsek Padangan. Fokus utama dari patroli ini adalah memastikan bahwa lonjakan pengunjung yang masih memadati tempat wisata tidak menimbulkan celah bagi gangguan keamanan maupun ketertiban.

Patroli dialogis yang digelar pada Kamis (26/3/26) ini menjadi ajang bagi petugas untuk berinteraksi langsung dengan para pedagang, pengelola, serta wisatawan yang tengah menikmati suasana liburan. Melalui pendekatan humanis ini, polisi tidak hanya melakukan pemantauan, tetapi juga memberikan edukasi dan mendengar aspirasi masyarakat. AKBP Afrian menjelaskan bahwa layanan pengamanan ini diberikan baik bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan balik mudik maupun yang masih memilih untuk menghabiskan waktu liburan di destinasi wisata lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Bojonegoro juga mengingatkan para pengunjung untuk tetap waspada terhadap potensi tindak kriminalitas yang kerap terjadi di tempat ramai, seperti pencurian kendaraan bermotor dan aksi copet. Ia menekankan pentingnya menjaga barang bawaan serta mematuhi aturan yang berlaku di lokasi wisata. Kehadiran petugas yang disiagakan secara berkelanjutan di berbagai objek vital ini menjadi jaminan bahwa masyarakat dapat menikmati sisa libur Lebaran dengan tenang tanpa rasa khawatir.(Avs)

Saat Helikopter Polisi Menyapu Langit Jawa Timur di Puncak Arus Balik


Deru baling-baling helikopter kepolisian menjadi pertanda keseriusan pengamanan arus balik Lebaran 2026 di Jawa Timur. Irjen Pol Nanang Avianto, Kapolda Jatim, secara langsung turun ke udara menjalankan KRYD atau Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan pasca Operasi Ketupat Semeru 2026. Bukan sekadar seremoni, langkah ini merupakan upaya memastikan denyut pergerakan pemudik dari pintu masuk Ngawi hingga ujung timur Banyuwangi terpantau secara real time, meminimalisir potensi kerawanan yang kerap muncul di momen-momen akhir masa liburan.

Pilihan menggunakan helikopter untuk memantau jalur arteri dan tol menunjukkan adaptasi strategi pengamanan yang lebih modern dan responsif. Kombes Pol Jules Abraham Abast menyampaikan bahwa dengan pandangan dari atas, petugas dapat mengidentifikasi titik kepadatan lebih dini dan langsung mengoordinasikan tindakan di lapangan. Hasil pantauan menunjukkan bahwa meskipun terjadi peningkatan volume kendaraan, situasi kamtibmas di Jawa Timur berlangsung kondusif tanpa gangguan yang menonjol, menandakan bahwa persiapan dan koordinasi lintas sektor berjalan optimal.

Salah satu indikator kesuksesan yang paling membanggakan adalah penurunan drastis angka kecelakaan lalu lintas hingga 37 persen dibanding periode sebelumnya. Data ini menjadi bukti bahwa pendekatan preventif dan pengaturan arus yang masif memberikan dampak nyata bagi keselamatan pemudik. Masyarakat yang masih dalam perjalanan kembali diimbau untuk mengatur jadwal perjalanan dengan bijak menggunakan fleksibilitas work from anywhere, dan selalu mengandalkan nomor darurat 110 sebagai jaminan rasa aman selama berada di jalanan Jawa Timur.(Avs)

 

Top