Hujan deras tak menyurutkan niat 150 aktivis kampus dari berbagai organisasi di Riau untuk berkemah di kawasan konservasi Rimbang Baling pada akhir April 2026. Mereka datang bukan sekadar bermalam di alam terbuka, melainkan untuk merumuskan strategi melawan dua musuh besar: asap tebal dari kebakaran hutan dan racun sunyi bernama narkoba. Lokasi yang dipilih sengaja simbolis, karena di sanalah paru-paru Riau perlahan terbakar setiap musim kemarau tiba.
Tumbuh Institute selaku penggagas tak hanya mengundang mahasiswa, tetapi juga membuka kursi dialog untuk aparat dan para pemikir kritis. Dalam sesi api unggun yang berlangsung meriah, Kapolda Riau berbagi panggung dengan Rocky Gerung dan seorang aktivis HAM. Keanehan ini sengaja dirancang untuk meruntuhkan tembok birokrasi yang selama ini memisahkan kekuatan sipil dari kepolisian dalam menangani darurat ekologis.
Azairus Adlu, pimpinan lembaga penyelenggara, mengingatkan bahwa kebakaran hutan bukan sekadar tumpukan jerami yang menyala, melainkan pembunuh sistematis terhadap hak hidup warga. Ia menegaskan bahwa narkoba merusak otak generasi, sementara karhutla merusak paru-paru generasi yang sama. Keduanya dipupuk oleh kultur pembiaran dan keserakahan yang berurat akar di struktur ekonomi politik daerah.
Puncak malam diakhiri dengan deklarasi diam-diam: mahasiswa tak akan lagi menjadi penonton pasif ketika kabut asap menyelimuti pekanbaru. Mereka berjanji mengubah energi protes menjadi riset lapangan dan advokasi kebijakan yang terukur. Api unggun yang menyala semalam suntuk menjadi saksi lahirnya aliansi baru antara kecerdasan intelektual, kekuatan aparat, dan idealisme anak muda.(Avs)
.jpeg)
Posting Komentar