Tidak perlu lahan luas atau kolam raksasa untuk bisa panen ikan setiap hari. Di Desa Malangsari, Nganjuk, sebuah revolusi pangan skala rumahan tengah berlangsung dengan memanfaatkan kolam terpal bundar. Inovasi ini bukan sekadar proyek mandiri warga, melainkan hasil kolaborasi erat dengan Bhabinkamtibmas setempat yang memastikan setiap langkah berjalan aman dan lancar.
Di balik kesibukan gelembung aerasi yang memecah permukaan kolam, terdapat teknologi bernama bioflok yang menjadi kunci utama. Dengan mencampurkan molase dan probiotik ke dalam air, tumbuhlah gumpalan mikroorganisme yang tak hanya membersihkan air dari sisa pakan, tetapi juga menjadi santapan bergizi bagi ikan nila dan lele. Metode ini seolah mengubah air keruh menjadi sup bergizi yang membuat ikan tumbuh lebih cepat dan sehat.
Brigpol Agung Pamuji, sang motor penggerak dari Polsek Warujayeng, tak hanya datang untuk foto dan memberi arahan. Ia hadir sebagai sahabat yang ikut memikirkan solusi ketika warga menghadapi kendala teknis. Pendekatan humanis ini membuktikan bahwa tugas polisi dalam menjaga keamanan juga bisa diartikan sebagai menjaga ketahanan pangan keluarga.
Kompol Ahmad Junaedi, Kapolsek Warujayeng, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah wujud nyata kepolisian dalam membangun kemandirian ekonomi. Ketika warga merasa aman dan didampingi, kreativitas mereka pun berkembang. Kini, kolam-kolam bundar itu bukan lagi sekadar proyek percontohan, melainkan simbol harapan bahwa dari pekarangan sempit pun bisa lahir ketahanan pangan yang kokoh. (Avs)

Posting Komentar