Bayangkan jika 1.243 orang, lengkap dengan koper dan perlengkapan ibadah, sudah duduk di bandara menunggu pesawat, lalu mendapati bahwa visa mereka adalah visa non-haji yang tidak akan pernah membawa mereka ke Mekkah. Itulah yang nyaris terjadi pada 2025, dan aparat berhasil mencegahnya. Tapi ancaman tidak berhenti di situ. Polri mencatat masih ada 42 kasus penipuan haji yang tengah diproses hukum, satu kasus sudah tahap lanjutan, dan total kerugian mencapai Rp92,64 miliar. Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, Polri bersama Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) membentuk Satuan Tugas (Satgas) Haji 2026, Kamis (9/4), di Kantor Kemenhaj, Jakarta.
Wakapolri, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, yang bertemu dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa Satgas Haji akan bekerja dengan pendekatan menyeluruh. Edukasi masif akan digelar untuk membangun kesadaran masyarakat agar tidak tertipu travel ilegal. Pengawasan ketat di bandara dan pelabuhan akan diperkuat untuk menyaring calon jemaah yang menggunakan jalur tidak resmi. Dan bagi para pelaku, penindakan tegas sudah menanti. "Modus akan terus berkembang. Karena itu kewaspadaan masyarakat menjadi kunci. Polri akan bertindak tegas demi melindungi masyarakat," ujar Wakapolri.
Langkah inovatif lainnya adalah perluasan koordinasi hingga ke Arab Saudi. Personel Polri akan ditempatkan di Jeddah dan Mekkah untuk memperkuat komunikasi dengan aparat keamanan setempat. Dengan demikian, perlindungan terhadap jemaah Indonesia tidak berhenti di gerbang keberangkatan, tapi terus berlanjut hingga di tanah suci. Hotline pengaduan terpadu juga akan dibuka untuk mempercepat respons terhadap laporan masyarakat. Wakil Menteri Haji dan Umrah menambahkan bahwa pemerintah juga berkomitmen menjaga agar kenaikan biaya global tidak serta-merta dibebankan kepada jemaah.
Penutup dari sinergi ini adalah pesan optimisme. Satgas Haji 2026 bukan sekadar tim ad hoc, tapi pernyataan bahwa negara serius melindungi warganya yang ingin beribadah. Masyarakat diimbau untuk segera melapor jika menemukan indikasi penipuan, karena setiap laporan bisa menyelamatkan puluhan bahkan ratusan calon jemaah lainnya. Dengan Polri di garda terdepan dan Kemenhaj sebagai mitra strategis, haji ilegal dan penipuan berkedok travel akan diburu habis. Jemaah Indonesia berangkat dengan aman, itulah harga mati. (Avs)

Posting Komentar