Bukan sekadar patroli atau razia, seorang Bhabinkamtibmas di Nganjuk justru terlibat percakapan hangat dengan warga di tengah tanaman jagung yang mulai meninggi. Aiptu Suyanto, nama polisi tersebut, tampak akrab menemani Sudaryono, pemilik lahan di Desa Senjayan, sembari membahas potensi pekarangan rumah yang bisa berbuah rupiah. Momen ini terjadi pada Senin pagi, di mana seragam dinas seolah melebur dengan dedaunan hijau pertanian warga.
Program ketahanan pangan nasional rupanya mendapat angin segar dari institusi kepolisian melalui pendekatan kemanusiaan. Di Kecamatan Gondang, kehadiran aparat tidak hanya ditakuti, tetapi justru dirindukan untuk sekadar bertukar pikiran tentang kesuburan tanah dan harga jual jagung. Langkah ini membuktikan bahwa polisi bisa menjadi mitra diskusi yang hangat, bahkan untuk urusan pupuk dan hama tanaman.
Dialog yang terjadi bukan basa-basi belaka. Aiptu Suyanto menyempatkan diri menyerap aspirasi warga secara langsung, memastikan bahwa kebutuhan masyarakat tidak hanya soal keamanan, tetapi juga soal kesejahteraan ekonomi. Ia memberikan suntikan semangat agar lahan tidur di sekitar rumah diubah menjadi ladang produktif yang bisa menopang kebutuhan dapur keluarga sehari-hari.
Kapolsek Gondang, AKP Sugino, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan wajah baru pelayanan Polri yang lebih dekat dan solutif. Pihaknya ingin menghapus sekat antara polisi dan petani, menunjukkan bahwa perlindungan bisa diwujudkan dalam bentuk pendampingan teknis hingga motivasi bercocok tanam. Polisi hadir sebagai sahabat yang ikut memikirkan ketersediaan pangan di meja makan warga.
Kegiatan asistensi seperti ini dianggap efektif karena menyentuh kebutuhan riil masyarakat akar rumput. Ketika polisi duduk di pinggir ladang, mendengar keluhan tentang sulitnya air atau serangan hama, di situlah kepercayaan publik terbangun secara alami. Keamanan pun tercipta bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa saling memiliki antara aparat dan komunitas.
Dari lahan milik Sudaryono ini, diharapkan muncul efek domino bagi warga lain untuk tidak ragu memanfaatkan setiap jengkal tanah kosong. Polisi berperan sebagai katalisator yang mengingatkan bahwa di tengah gejolak ekonomi, kemandirian pangan bisa dimulai dari pekarangan sendiri. Tanaman jagung ini diyakini bukan hanya tumbuh subur, tetapi juga menyuburkan hubungan sosial.
Dengan semangat gotong royong dan kehadiran polisi yang humanis, desa Senjayan menjadi contoh kecil bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari dialog sederhana. Warga tidak lagi merasa sendiri menghadapi tantangan ekonomi, karena aparat keamanan pun ikut memikirkan solusi nyata untuk kehidupan yang lebih baik. (Avs)

Posting Komentar