Ketenangan pagi di RS Bhayangkara Surabaya mendadak berubah semarak saat rombongan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya. Selasa pekan lalu, Afif Johan bersama timnya memutuskan untuk melihat langsung bagaimana rumah sakit di lingkungan Polri ini merawat para peserta JKN. Langkah mereka mantap menyusuri koridor, dari poliklinik umum hingga ke ruang perawatan intensif, memastikan tak ada pasien yang terabaikan hanya karena status kepesertaannya. Ini adalah cara Dewan Pengawas memastikan bahwa program JKN berjalan di rel yang benar: adil dan berkualitas.
Sambutan hangat langsung diberikan oleh Kombes Pol dr. Wahono Edhi dan Kombes Pol Bayu Dharma Shanti. Kehadiran dua petinggi ini menunjukkan keseriusan RS Bhayangkara dalam menerima evaluasi eksternal. Mereka dengan terbuka memandu rombongan, menunjukkan berbagai fasilitas, dan berdiskusi mengenai alur pelayanan pasien. Keterbukaan ini menjadi nilai tambah tersendiri, karena membangun kepercayaan bahwa rumah sakit tidak memiliki sesuatu yang disembunyikan, baik dalam hal administrasi maupun kualitas perawatan.
Hasil pengamatan di lapangan membuat Afif Johan angkat bicara dengan nada puas. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada manajemen rumah sakit yang dinilai sukses menerapkan pelayanan tanpa diskriminasi. Pasien BPJS dan pasien umum mendapatkan hak yang sama, mulai dari kesempatan berkonsultasi dengan dokter spesialis hingga kenyamanan di ruang rawat inap. Komitmen Polri dalam menyelenggarakan rumah sakit yang humanis dan profesional ini, menurut Afif, patut diapresiasi dan direplikasi oleh unit pelayanan kesehatan Bhayangkara lainnya di seluruh Indonesia.
Lebih dalam dari sekadar pelayanan medis, Dewan Pengawas juga menyoroti aspek kemajuan teknologi yang diadopsi. RS Bhayangkara Surabaya dinilai telah selangkah lebih maju dengan menerapkan sistem digitalisasi yang efektif. Inovasi ini secara signifikan berhasil menekan keluhan klasik tentang antrean panjang, sebuah masalah yang seringkali membuat pasien enggan berobat. Bersama dengan RSUD dr. Soetomo, RS Bhayangkara menjadi contoh bahwa rumah sakit besar pun bisa ramping secara birokrasi berkat sentuhan teknologi, memberikan kenyamanan ekstra bagi pengunjung.
Dari rangkaian kunjungan pengawasan ini, tersirat pesan optimisme untuk masa depan JKN. Afif Johan menegaskan bahwa BPJS Kesehatan tidak akan berhenti pada apresiasi semata, tetapi akan terus membuka ruang dialog dengan masyarakat. Program penyerapan aspirasi yang digalakkan menjadi bukti bahwa setiap keluhan dan masukan dari 280 juta peserta adalah prioritas. Kunjungan ke Surabaya bukanlah akhir, melainkan bagian dari siklus perbaikan berkelanjutan untuk mewujudkan layanan kesehatan yang tak hanya menjangkau, tapi juga menyentuh hati setiap warganegara.(Avs)
.jpeg)
Posting Komentar